nih watashi upload hasil laporan kami, semoga bermanfaat:)
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI
TUMBUHAN
(Luas Daun, Absorbsi dan
Transpirasi)

Disusun
:
Kelompok
IV
|
Bama
Aprilian
|
2011511012
|
|
Desianti
Zahra
|
2011511016
|
|
Fitriya
|
2011511028
|
|
Iqbal
Maulana
|
2011511032
|
|
Niken
Dwiyulivia Yasmin
|
2011511048
|
|
Sannaz
Haliza Zain
|
2011511060
|
|
Sri
Hapsah Meilinda
|
2011511066
|
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERIKANAN PERIKANAN DAN
BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2016
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam aktifitasnya
tumbuhan selalu melakukan absorbs air dari lingkungannya. Namun demikian
tumbuhan juga melakukan pelepasan air berupa uap air melalui seluruh permukaan
daun, khususnya melalui stomata. Mekanisme pemasukan dan pelepasan ini terjadi
dalam mekanisme control keseimbngan cairan tanaman. Apabia absorbsi dan
pelepasan air tidak seimbang maka tumbuhan akan terganggu.
Transpirasi merupakan
hilangnya air dari tubuhmbuhan dalam bentuk uap air. Teori apapum yang
menjelaskan gerak ke atas air daam xylem harus memperhatikan volume air yang
diangkat serta kecepatannya. Misalnya teori vutal yang menyebutkan bahwa
perjalanan air hanya dapat terlaksana karna pertolongan sel sel hidup, dalam
hal ini sel parenkim kayu dan sel jari jari empulur yang ada disekitar xylem
(Dwijoseputro 1994).
Disamping mengeluarkan
air dalam bentuk uap air , tumbuhan dapat pula mengeluarkan air dalam bentuk
tetesan air yang prosesnya disebut gutasi dengan melalui alat yang disebut
hidatoda, yaitu suatu lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering
kita jumpai pada spesies tumbuhan tertentu.
Transpirasi yang berlangsung
memberikan beberapa manfaat yaitu, menyebabkan terjadinya daya isap daun
sehingga transport air dibatang membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar,
mengurangi air yang terserap secara berlebihan. Mempertahankan temperature yang
sesuai untuk daun , mengatur fotosintesis dengan membuka dan menutupnya
stomata. Absorbsi air akan ditentukan oleh beberapa factor antara lain tekanan
air, kapilaritas, daya hisap daun dan tingkat aktifitas kehidupan.
1.2
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah utuk
mengetahui pengaruh luas daun terhadap kecepatan absorbs air.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Absorpsi
adalah proses penyerapan air dan unsur hara oleh tanaman berupa ion-ion dari
tanah ke dalam sel-sel akar, yang selanjutnya ditranslokasikan melalui jaringan
xylem ke seluruh bagian tumbuhan. Proses masuknya ion-ion kedalam sel-sel akar,
sebagai pengganti dari ion-ion yang keluar dari sel akar disebut dengan
pertukaran ion. Masuknya ion-ion kedalam kedalam sel-sel akar menggunakan
energy dari hasil pernafasan tumbuhan.Ion-ion yang berperan untuk mengatasi
tingkat konsentrasi yang lebih tinggi. Jelas bahwa faktor hidup berperan penting dalam melakukan absorpsi air. Faktor-
faktor yang mempengaruhi absorpsi air antara lain adalah tekanan akar, kapilaritas,
karakteristik daun (Supraptono 2000).
Tanaman
mendapat air melalui proses penyerapan oleh rambut-rambut akar. Air serta garam
terlarut akan diteruskan ke seluruh bagian tanaman. Hanya sebagian kecil
(kurang dari 1%) dari air diabsorbsi oleh tanaman dipergunakan dalam reaksi
metabolisme (hidrolisis). Sebagian besar air diabsorbsi itu akan dikeluarkan
lagi dalam bentuk uap air ke atmosfer
melalui proses transpirasi. Kehilangan air pada tumbuhan dapat berlangsung
melalui stomata, kultikula, dan lentisel (Salisbury dan Ross 1996)
Penyerapan
hara pada tanaman merupakan suatu hal yang kompleks. Tanaman memiliki suatu
mekanisme untuk menyerap hara dengan cara transpirasi. Transpirasi adalah
kehilangan air pada tanaman.Kehilangan air dari daun ini melibatkan kekuatan
untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh. Karena hilangnya konstan
air oleh transpirasi melalui stomata (dalam tingkat yang jauh lebih rendah
melalui epidermis), sel-sel dalam jaringan daun akan mengalami defisit air. Hal
ini disebabkan suhu lingkungan yang memiliki potensial negatif yang lebih
rendah dibandingkan didalam daun, sehingga xylem akan menarik naik lebih banyak
air dari akar. Transpirasi
sebenarnya menguntungkan tumbuhan. Hasil sampingan yang tidak terhindarkan dari suatu kepentingan
telah berubah menjadi keuntungan.Pada umumnya, tumbuhan mampu hidup tanpa
transpirasi, namun bila dilakukan juga, tampaknya transpirasi memberikan
manfaat.Barangkali sambil mengangkut mineral, mempertahankan turgiditas
optimum, dan tentu saja menghilangkan sejumlah besar bahang dari daun
(Salisburry dan Ross 1996).
Proses transpirasi ini selain
mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat
mendinginkan tanaman yang terus-menerus berada dibawah sinar matahari. Mereka
tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari, karena
melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu
menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga
akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar
keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin (Jayamiharja
dan Joni 1977).
Tumbuhan yang hidup di gurun
pasir atau lingkungan yang kurang air (daerah panas) mislnya kaktus, mempunyai
struktur adaptasi yang khusus untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Pada tumbuhan yang terdapat didaerah panas, jika memiliki daun maka daunnya
berbulu, bentuknya kecil-kecil, kulit luar daunnya tebal, mempunyai lapisan
lilin yang tebal, dan mempunyai sedikit stomata untuk mengurangi penguapan. Daun juga sering kali terbuka
terhadap tingkat penyinaran tinggi, yang melalui peningkatan suhu daun
meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air yang hilang sebagai
uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang
basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata, dan
hilang ke udara melalui pori stomata (Wilkins 2008).
Kehilangan air dari daun
umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air kedalam daun dari berkas pembuluh
yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari
tanah ke akar. Ada
banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi
pergerakannya. Sinar
menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadi
banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi, karena sinar itu juga mengandung
panas (terutama sinar infra merah), maka banyak sinar berarti juga menambah
panas, dengan demikian menaikkan temperatur.Kenaikan temperatur sampai pada
suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian
memperbesar transpirasi (Dwidjoseputro 1994).
Proses hilangnya air dalam
bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak diatas permukaan tanah
melewati stomata, lubang kutikula dan lentisel. Transpirasi pada tumbuhan yang
sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat
merugikan karena tumbuhan akan layu bahkan mati (Devlin dan Witham 1983).
Faktor
yang mempengaruhi transpirasi terdiri dari faktor internal dan faktor
eksternal. Adapun faktor internal menurut Gardner (1991) diantaranya adalah:
a.
Penutupan stomata: Sebagian besar
transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus
air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika
stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air.
b.
Jumlah dan ukuran stomata: Jumlah dan
ukuran stomata dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan. Hal ini mempunyai
pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan
penutupan stomata.
c.
Jumlah daun: Makin luas daerah permukaan
daun, makin besar laju transpirasi.
d.
Penggulungan atau pelipatan daun: Banyak
tanaman mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan
transpirasi apabila persediaan air terbatas.
e.
Kedalaman dan proliferasi akar:
Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air dari proliferasi akar
(akar per satuan volume tanah) sebelum terjadi pelayuan permanen.
Adapun
faktor eksternal/lingkungan yang dapat mempengaruhi transpirasi adalah
(Dwijoseputro 1994):
a.
Kelembaban: Gerakan uap air dari udara
ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang, dengan demikian
seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya
kelembaban udara. Pada kelembaban udara relatif 50% perbedaan tekanan uap air
didaun dan atmosfer 2 kali lebih besar dari kelembaban relatif 70%.
b.
Suhu: Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F
cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Suhu daun di dalam
naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar
matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi dari pada suhu udara.
c.
Cahaya dapat mempengaruhi laju
transpirasi melalui Sehelai daun yang terkena sinar matahari langsung akan
mengabsorbsi energi radiasi. Cahaya tidak harus selalu berbentuk cahaya
langsung, cahaya dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya
terhadap buka-tutupnya stomata dengan mekanisme tertentu.
d.
Angin cenderung meningkatkan laju
transpirasi, terutama di dalam naungan atau cahaya melalui penyapuan uap air.
Akan tetapi di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu
daun dan penurunan laju transpirasi, cenderung menjadi lebih penting daripada
pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air.
e.
Kandungan air tanah: Jika kandungan air
tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke
dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit
air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.
III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum tentang luas
daun, absorbsi dan transpirasi dilakukan pada rabu, 28 september 2016 di
belakang laboratorium KP 2 Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi
Universitas bangka Belitung.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum luas
daun, absorbs, dan transpirasi yaitu photometer, ranting tanaman, pisau tajam,
statip beserta klemnya, kantong plastik, karet gelang, kertas mini meter block,
dan alat tulis.
3.3
Cara
Kerja
Siapkan dua buah ranting atau dua buah
daun tanaman yang tidak mudah layu. Pilihlah ukuran ranting atau daun yang sama
dengan ukuran pipa karet pada photometer. Buatlah ukuran atau jumlah daun
ranting kedua tanaman tersebut berbeda. Kemudian lepaskan karet penyumbat pada
tabung kaca photometer, masukkan alat ini kedalam bak plastic berisi air.
Masukkan ranting kedalam pipa karet photometer, dan tutup rapat mulut pipa kaca
utama dengan karet penyumbat. Selanjutnya angkatlah rangkaian percobaan
tersebut dan beri tanda posisi awal dari air pada pipa berskala dengan spidol.
Kemudian tempatkan rangkaian ini pada tempat yang terkena cahaya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Tabel 1. Data pengamatan laju penguapan
air (ml) menurut jumlah/ luas daun
|
Ulangan
(n)
|
Daun
A
|
Daun
B
|
Keterangan
|
|
1. 10
menit I
|
11,
444 cm2
|
14,
725 cm2
|
|
|
2. 10
menit II
|
17,
800 cm2
|
8,
500 cm2
|
|
|
3. 10
menit III
|
14,
375 cm2
|
16,
157 cm2
|
|
|
Rerata
|
14,
54 cm2
|
13,13
cm2
|
|

Tabel
2. Rerata volume penyerapan air (ml) oleh tanaman menurut jumlah/ luas daun
|
Ulangan
|
Daun A
(luas: 14, 54 cm2)
|
Daun B
(luas: 13,13 cm2)
|
Ket
|
|
1.
10 menit I
|
0,2
ml
|
0,4
ml
|
|
|
2.
10 menit II
|
0,7
ml
|
0,1
ml
|
|
|
3.
10 menit III
|
0,3
ml
|
0,6
ml
|
|
|
Rerata
|
0,4
ml
|
0,7
ml
|
|

4.2
Pembahasan
Daun sering terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi melalui
peningkatan suhu dan meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air
yang hilang sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis
bagian dalam yang basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga
dibawah stomata, dan hilang ke udara melalui pori stomata. Transpirasi
terjadi karena cahaya matahari menembus lapisan udara tipis sehingga membuat
rongga-rongga pada stomata jenuh air dan potensial airnya lebih tinggi
dibandingkan dengan di udara sehingga air akan keluar dari potensial air tinggi
ke rendah melalui proses penguapan.
Hasil pengamatan yang
telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pola kecenderungan antara laju volume dan jumlah luas daun. Pada
keenam sample daun akasia yang digunakan volume dan jumlah (luas) daunnya cenderung
naik turun. Hal ini karena semakin lebar luas bidang daun maka semakin banyak
pula penguapan yang terjadi, artinya volume air yang menguap dari daun semakin
banyak, hasil ini sesuai dengan pendapat dari Suyitno (2010) yang menyatakan bahwa semakin luas daun maka
semakin besar absorpsi air, dan sebaliknya semakin sempit luas daun maka akan
memperlambat laju absorpsi air.
Penyerapan air paling besar terjadi
pada daun A perlakuaan 10 menit ke II, hal ini karena lebar permukaan daun yang
digunakan sebagai sample paling besar, selian itu percobaan ini dilakukan pada
siang hari pada saat cahaya matahari sedang terik, maka terjadi transpirasi
dalam jumlah yang besar dan jumlah stomata yang membuka paling banyak adalah
pada daun ini. Percobaan ini sesuai dengan yang dikatakan Suyitno (2010) bahwa
selain faktor luas daun, cahaya juga dapat mempengaruhi laju absorpsi air. Pada
percobaan tanpa cahaya laju absorpsinya lebih kecil dibandingkan pada percobaan
menggunakan cahaya matahari. Hal ini disebabkan cahaya matahari merupakan
faktor penting dalam proses transpirasi, stomata akan membuka bila terkena
cahaya matahari. Berarti, semakin banyak cahaya matahari semakin banyak jumlah
stomata yang membuka dan semakin tinggi laju transpirasinya berikut laju
absorpsi nya.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan
praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa laju absorbsi dan
transpirasi dipengaruhi oleh luas daun dan
cahaya matahari, hal ini karena semakin luas permukaan daun maka semakin
cepat laju transpirasi dan absorbsinya, hal ini juga dipengaruhi oleh cahaya
matahari karena stomata akan banyak membuka bila terkena sinar matahari,
semakin banyak stomata yang terbuka maka semakin cepat pula laju transpirasi
dan absorbsinya begitu pula sebaliknya.
DAFTAR
PUSTAKA
Devlin
RM dan Witham F. 1983. Plant Physiologi
(Terjemahan). Quezon City: PWS Publisher
Dwijoseputro.
1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta:
Gramedia
Gardner
FPR. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Jakarta: Universitas Indonesia Press
Jayamiharja
dan Joni BA. 1977. Diktat Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Purwokerto: Fakultas Pertanian UNSOED
Salisbury,
F. B. dan Ross, C.W. 1996. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung: ITB Press
Supraptono
D. 2000. Kamus Dasar Agronomi.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Suyitno.
2010. Petunjuk Praktikum Fisiologi
Tumbuhan Dasar. Yogyakarta: FMIPA UNY
Wilkins. 2008. Fisiologi Tanaman.
Jakarta : Bumi Aksara
LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI
TUMBUHAN
(Luas Daun, Absorbsi dan
Transpirasi)

Disusun
:
Kelompok
IV
|
Bama
Aprilian
|
2011511012
|
|
Desianti
Zahra
|
2011511016
|
|
Fitriya
|
2011511028
|
|
Iqbal
Maulana
|
2011511032
|
|
Niken
Dwiyulivia Yasmin
|
2011511048
|
|
Sannaz
Haliza Zain
|
2011511060
|
|
Sri
Hapsah Meilinda
|
2011511066
|
AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERIKANAN PERIKANAN DAN
BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2016
I. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Dalam aktifitasnya
tumbuhan selalu melakukan absorbs air dari lingkungannya. Namun demikian
tumbuhan juga melakukan pelepasan air berupa uap air melalui seluruh permukaan
daun, khususnya melalui stomata. Mekanisme pemasukan dan pelepasan ini terjadi
dalam mekanisme control keseimbngan cairan tanaman. Apabia absorbsi dan
pelepasan air tidak seimbang maka tumbuhan akan terganggu.
Transpirasi merupakan
hilangnya air dari tubuhmbuhan dalam bentuk uap air. Teori apapum yang
menjelaskan gerak ke atas air daam xylem harus memperhatikan volume air yang
diangkat serta kecepatannya. Misalnya teori vutal yang menyebutkan bahwa
perjalanan air hanya dapat terlaksana karna pertolongan sel sel hidup, dalam
hal ini sel parenkim kayu dan sel jari jari empulur yang ada disekitar xylem
(Dwijoseputro 1994).
Disamping mengeluarkan
air dalam bentuk uap air , tumbuhan dapat pula mengeluarkan air dalam bentuk
tetesan air yang prosesnya disebut gutasi dengan melalui alat yang disebut
hidatoda, yaitu suatu lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering
kita jumpai pada spesies tumbuhan tertentu.
Transpirasi yang berlangsung
memberikan beberapa manfaat yaitu, menyebabkan terjadinya daya isap daun
sehingga transport air dibatang membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar,
mengurangi air yang terserap secara berlebihan. Mempertahankan temperature yang
sesuai untuk daun , mengatur fotosintesis dengan membuka dan menutupnya
stomata. Absorbsi air akan ditentukan oleh beberapa factor antara lain tekanan
air, kapilaritas, daya hisap daun dan tingkat aktifitas kehidupan.
1.2
Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah utuk
mengetahui pengaruh luas daun terhadap kecepatan absorbs air.
II.
TINJAUAN PUSTAKA
Absorpsi
adalah proses penyerapan air dan unsur hara oleh tanaman berupa ion-ion dari
tanah ke dalam sel-sel akar, yang selanjutnya ditranslokasikan melalui jaringan
xylem ke seluruh bagian tumbuhan. Proses masuknya ion-ion kedalam sel-sel akar,
sebagai pengganti dari ion-ion yang keluar dari sel akar disebut dengan
pertukaran ion. Masuknya ion-ion kedalam kedalam sel-sel akar menggunakan
energy dari hasil pernafasan tumbuhan.Ion-ion yang berperan untuk mengatasi
tingkat konsentrasi yang lebih tinggi. Jelas bahwa faktor hidup berperan penting dalam melakukan absorpsi air. Faktor-
faktor yang mempengaruhi absorpsi air antara lain adalah tekanan akar, kapilaritas,
karakteristik daun (Supraptono 2000).
Tanaman
mendapat air melalui proses penyerapan oleh rambut-rambut akar. Air serta garam
terlarut akan diteruskan ke seluruh bagian tanaman. Hanya sebagian kecil
(kurang dari 1%) dari air diabsorbsi oleh tanaman dipergunakan dalam reaksi
metabolisme (hidrolisis). Sebagian besar air diabsorbsi itu akan dikeluarkan
lagi dalam bentuk uap air ke atmosfer
melalui proses transpirasi. Kehilangan air pada tumbuhan dapat berlangsung
melalui stomata, kultikula, dan lentisel (Salisbury dan Ross 1996)
Penyerapan
hara pada tanaman merupakan suatu hal yang kompleks. Tanaman memiliki suatu
mekanisme untuk menyerap hara dengan cara transpirasi. Transpirasi adalah
kehilangan air pada tanaman.Kehilangan air dari daun ini melibatkan kekuatan
untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh. Karena hilangnya konstan
air oleh transpirasi melalui stomata (dalam tingkat yang jauh lebih rendah
melalui epidermis), sel-sel dalam jaringan daun akan mengalami defisit air. Hal
ini disebabkan suhu lingkungan yang memiliki potensial negatif yang lebih
rendah dibandingkan didalam daun, sehingga xylem akan menarik naik lebih banyak
air dari akar. Transpirasi
sebenarnya menguntungkan tumbuhan. Hasil sampingan yang tidak terhindarkan dari suatu kepentingan
telah berubah menjadi keuntungan.Pada umumnya, tumbuhan mampu hidup tanpa
transpirasi, namun bila dilakukan juga, tampaknya transpirasi memberikan
manfaat.Barangkali sambil mengangkut mineral, mempertahankan turgiditas
optimum, dan tentu saja menghilangkan sejumlah besar bahang dari daun
(Salisburry dan Ross 1996).
Proses transpirasi ini selain
mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat
mendinginkan tanaman yang terus-menerus berada dibawah sinar matahari. Mereka
tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari, karena
melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu
menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga
akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar
keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin (Jayamiharja
dan Joni 1977).
Tumbuhan yang hidup di gurun
pasir atau lingkungan yang kurang air (daerah panas) mislnya kaktus, mempunyai
struktur adaptasi yang khusus untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Pada tumbuhan yang terdapat didaerah panas, jika memiliki daun maka daunnya
berbulu, bentuknya kecil-kecil, kulit luar daunnya tebal, mempunyai lapisan
lilin yang tebal, dan mempunyai sedikit stomata untuk mengurangi penguapan. Daun juga sering kali terbuka
terhadap tingkat penyinaran tinggi, yang melalui peningkatan suhu daun
meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air yang hilang sebagai
uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang
basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata, dan
hilang ke udara melalui pori stomata (Wilkins 2008).
Kehilangan air dari daun
umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air kedalam daun dari berkas pembuluh
yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari
tanah ke akar. Ada
banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi
pergerakannya. Sinar
menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadi
banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi, karena sinar itu juga mengandung
panas (terutama sinar infra merah), maka banyak sinar berarti juga menambah
panas, dengan demikian menaikkan temperatur.Kenaikan temperatur sampai pada
suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian
memperbesar transpirasi (Dwidjoseputro 1994).
Proses hilangnya air dalam
bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak diatas permukaan tanah
melewati stomata, lubang kutikula dan lentisel. Transpirasi pada tumbuhan yang
sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat
merugikan karena tumbuhan akan layu bahkan mati (Devlin dan Witham 1983).
Faktor
yang mempengaruhi transpirasi terdiri dari faktor internal dan faktor
eksternal. Adapun faktor internal menurut Gardner (1991) diantaranya adalah:
a.
Penutupan stomata: Sebagian besar
transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus
air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika
stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air.
b.
Jumlah dan ukuran stomata: Jumlah dan
ukuran stomata dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan. Hal ini mempunyai
pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan
penutupan stomata.
c.
Jumlah daun: Makin luas daerah permukaan
daun, makin besar laju transpirasi.
d.
Penggulungan atau pelipatan daun: Banyak
tanaman mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan
transpirasi apabila persediaan air terbatas.
e.
Kedalaman dan proliferasi akar:
Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air dari proliferasi akar
(akar per satuan volume tanah) sebelum terjadi pelayuan permanen.
Adapun
faktor eksternal/lingkungan yang dapat mempengaruhi transpirasi adalah
(Dwijoseputro 1994):
a.
Kelembaban: Gerakan uap air dari udara
ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang, dengan demikian
seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya
kelembaban udara. Pada kelembaban udara relatif 50% perbedaan tekanan uap air
didaun dan atmosfer 2 kali lebih besar dari kelembaban relatif 70%.
b.
Suhu: Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F
cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Suhu daun di dalam
naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar
matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi dari pada suhu udara.
c.
Cahaya dapat mempengaruhi laju
transpirasi melalui Sehelai daun yang terkena sinar matahari langsung akan
mengabsorbsi energi radiasi. Cahaya tidak harus selalu berbentuk cahaya
langsung, cahaya dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya
terhadap buka-tutupnya stomata dengan mekanisme tertentu.
d.
Angin cenderung meningkatkan laju
transpirasi, terutama di dalam naungan atau cahaya melalui penyapuan uap air.
Akan tetapi di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu
daun dan penurunan laju transpirasi, cenderung menjadi lebih penting daripada
pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air.
e.
Kandungan air tanah: Jika kandungan air
tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke
dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit
air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.
III. METODE PRAKTIKUM
3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum tentang luas
daun, absorbsi dan transpirasi dilakukan pada rabu, 28 september 2016 di
belakang laboratorium KP 2 Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi
Universitas bangka Belitung.
3.2 Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum luas
daun, absorbs, dan transpirasi yaitu photometer, ranting tanaman, pisau tajam,
statip beserta klemnya, kantong plastik, karet gelang, kertas mini meter block,
dan alat tulis.
3.3
Cara
Kerja
Siapkan dua buah ranting atau dua buah
daun tanaman yang tidak mudah layu. Pilihlah ukuran ranting atau daun yang sama
dengan ukuran pipa karet pada photometer. Buatlah ukuran atau jumlah daun
ranting kedua tanaman tersebut berbeda. Kemudian lepaskan karet penyumbat pada
tabung kaca photometer, masukkan alat ini kedalam bak plastic berisi air.
Masukkan ranting kedalam pipa karet photometer, dan tutup rapat mulut pipa kaca
utama dengan karet penyumbat. Selanjutnya angkatlah rangkaian percobaan
tersebut dan beri tanda posisi awal dari air pada pipa berskala dengan spidol.
Kemudian tempatkan rangkaian ini pada tempat yang terkena cahaya.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Tabel 1. Data pengamatan laju penguapan
air (ml) menurut jumlah/ luas daun
|
Ulangan
(n)
|
Daun
A
|
Daun
B
|
Keterangan
|
|
1. 10
menit I
|
11,
444 cm2
|
14,
725 cm2
|
|
|
2. 10
menit II
|
17,
800 cm2
|
8,
500 cm2
|
|
|
3. 10
menit III
|
14,
375 cm2
|
16,
157 cm2
|
|
|
Rerata
|
14,
54 cm2
|
13,13
cm2
|
|

Tabel
2. Rerata volume penyerapan air (ml) oleh tanaman menurut jumlah/ luas daun
|
Ulangan
|
Daun A
(luas: 14, 54 cm2)
|
Daun B
(luas: 13,13 cm2)
|
Ket
|
|
1.
10 menit I
|
0,2
ml
|
0,4
ml
|
|
|
2.
10 menit II
|
0,7
ml
|
0,1
ml
|
|
|
3.
10 menit III
|
0,3
ml
|
0,6
ml
|
|
|
Rerata
|
0,4
ml
|
0,7
ml
|
|

4.2
Pembahasan
Daun sering terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi melalui
peningkatan suhu dan meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air
yang hilang sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis
bagian dalam yang basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga
dibawah stomata, dan hilang ke udara melalui pori stomata. Transpirasi
terjadi karena cahaya matahari menembus lapisan udara tipis sehingga membuat
rongga-rongga pada stomata jenuh air dan potensial airnya lebih tinggi
dibandingkan dengan di udara sehingga air akan keluar dari potensial air tinggi
ke rendah melalui proses penguapan.
Hasil pengamatan yang
telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pola kecenderungan antara laju volume dan jumlah luas daun. Pada
keenam sample daun akasia yang digunakan volume dan jumlah (luas) daunnya cenderung
naik turun. Hal ini karena semakin lebar luas bidang daun maka semakin banyak
pula penguapan yang terjadi, artinya volume air yang menguap dari daun semakin
banyak, hasil ini sesuai dengan pendapat dari Suyitno (2010) yang menyatakan bahwa semakin luas daun maka
semakin besar absorpsi air, dan sebaliknya semakin sempit luas daun maka akan
memperlambat laju absorpsi air.
Penyerapan air paling besar terjadi
pada daun A perlakuaan 10 menit ke II, hal ini karena lebar permukaan daun yang
digunakan sebagai sample paling besar, selian itu percobaan ini dilakukan pada
siang hari pada saat cahaya matahari sedang terik, maka terjadi transpirasi
dalam jumlah yang besar dan jumlah stomata yang membuka paling banyak adalah
pada daun ini. Percobaan ini sesuai dengan yang dikatakan Suyitno (2010) bahwa
selain faktor luas daun, cahaya juga dapat mempengaruhi laju absorpsi air. Pada
percobaan tanpa cahaya laju absorpsinya lebih kecil dibandingkan pada percobaan
menggunakan cahaya matahari. Hal ini disebabkan cahaya matahari merupakan
faktor penting dalam proses transpirasi, stomata akan membuka bila terkena
cahaya matahari. Berarti, semakin banyak cahaya matahari semakin banyak jumlah
stomata yang membuka dan semakin tinggi laju transpirasinya berikut laju
absorpsi nya.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan
praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa laju absorbsi dan
transpirasi dipengaruhi oleh luas daun dan
cahaya matahari, hal ini karena semakin luas permukaan daun maka semakin
cepat laju transpirasi dan absorbsinya, hal ini juga dipengaruhi oleh cahaya
matahari karena stomata akan banyak membuka bila terkena sinar matahari,
semakin banyak stomata yang terbuka maka semakin cepat pula laju transpirasi
dan absorbsinya begitu pula sebaliknya.
DAFTAR
PUSTAKA
Devlin
RM dan Witham F. 1983. Plant Physiologi
(Terjemahan). Quezon City: PWS Publisher
Dwijoseputro.
1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta:
Gramedia
Gardner
FPR. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya.
Jakarta: Universitas Indonesia Press
Jayamiharja
dan Joni BA. 1977. Diktat Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Purwokerto: Fakultas Pertanian UNSOED
Salisbury,
F. B. dan Ross, C.W. 1996. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung: ITB Press
Supraptono
D. 2000. Kamus Dasar Agronomi.
Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Suyitno.
2010. Petunjuk Praktikum Fisiologi
Tumbuhan Dasar. Yogyakarta: FMIPA UNY
Wilkins. 2008. Fisiologi Tanaman.
Jakarta : Bumi Aksara