Rabu, 05 Oktober 2016

konbanwa minna-san, gomen! baru bisa ktif lagi, kemaren sibuk soalnya!!!
 nih watashi upload hasil laporan kami, semoga bermanfaat:)

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
(Luas Daun, Absorbsi dan Transpirasi)


Disusun :

Kelompok IV

Bama Aprilian
2011511012
Desianti Zahra
2011511016
Fitriya
2011511028
Iqbal Maulana
2011511032
Niken Dwiyulivia Yasmin
2011511048
Sannaz Haliza Zain
2011511060
Sri Hapsah Meilinda
2011511066



AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERIKANAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2016

I.       PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Dalam aktifitasnya tumbuhan selalu melakukan absorbs air dari lingkungannya. Namun demikian tumbuhan juga melakukan pelepasan air berupa uap air melalui seluruh permukaan daun, khususnya melalui stomata. Mekanisme pemasukan dan pelepasan ini terjadi dalam mekanisme control keseimbngan cairan tanaman. Apabia absorbsi dan pelepasan air tidak seimbang maka tumbuhan akan terganggu.
Transpirasi merupakan hilangnya air dari tubuhmbuhan dalam bentuk uap air. Teori apapum yang menjelaskan gerak ke atas air daam xylem harus memperhatikan volume air yang diangkat serta kecepatannya. Misalnya teori vutal yang menyebutkan bahwa perjalanan air hanya dapat terlaksana karna pertolongan sel sel hidup, dalam hal ini sel parenkim kayu dan sel jari jari empulur yang ada disekitar xylem (Dwijoseputro 1994).
Disamping mengeluarkan air dalam bentuk uap air , tumbuhan dapat pula mengeluarkan air dalam bentuk tetesan air yang prosesnya disebut gutasi dengan melalui alat yang disebut hidatoda, yaitu suatu lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering kita jumpai pada spesies tumbuhan tertentu.
Transpirasi yang berlangsung memberikan beberapa manfaat yaitu, menyebabkan terjadinya daya isap daun sehingga transport air dibatang membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar, mengurangi air yang terserap secara berlebihan. Mempertahankan temperature yang sesuai untuk daun , mengatur fotosintesis dengan membuka dan menutupnya stomata. Absorbsi air akan ditentukan oleh beberapa factor antara lain tekanan air, kapilaritas, daya hisap daun dan tingkat aktifitas kehidupan.

1.2    Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah utuk mengetahui pengaruh luas daun terhadap kecepatan absorbs air.                                                   


II. TINJAUAN PUSTAKA
Absorpsi adalah proses penyerapan air dan unsur hara oleh tanaman berupa ion-ion dari tanah ke dalam sel-sel akar, yang selanjutnya ditranslokasikan melalui jaringan xylem ke seluruh bagian tumbuhan. Proses masuknya ion-ion kedalam sel-sel akar, sebagai pengganti dari ion-ion yang keluar dari sel akar disebut dengan pertukaran ion. Masuknya ion-ion kedalam kedalam sel-sel akar menggunakan energy dari hasil pernafasan tumbuhan.Ion-ion yang berperan untuk mengatasi tingkat konsentrasi yang lebih tinggi. Jelas bahwa faktor hidup berperan  penting dalam melakukan absorpsi air. Faktor- faktor yang mempengaruhi absorpsi air antara lain adalah tekanan akar, kapilaritas, karakteristik daun (Supraptono 2000).
Tanaman mendapat air melalui proses penyerapan oleh rambut-rambut akar. Air serta garam terlarut akan diteruskan ke seluruh bagian tanaman. Hanya sebagian kecil (kurang dari 1%) dari air diabsorbsi oleh tanaman dipergunakan dalam reaksi metabolisme (hidrolisis). Sebagian besar air diabsorbsi itu akan dikeluarkan lagi dalam  bentuk uap air ke atmosfer melalui proses transpirasi. Kehilangan air pada tumbuhan dapat berlangsung melalui stomata, kultikula, dan lentisel (Salisbury dan Ross 1996)
Penyerapan hara pada tanaman merupakan suatu hal yang kompleks. Tanaman memiliki suatu mekanisme untuk menyerap hara dengan cara transpirasi. Transpirasi adalah kehilangan air pada tanaman.Kehilangan air dari daun ini melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh. Karena hilangnya konstan air oleh transpirasi melalui stomata (dalam tingkat yang jauh lebih rendah melalui epidermis), sel-sel dalam jaringan daun akan mengalami defisit air. Hal ini disebabkan suhu lingkungan yang memiliki potensial negatif yang lebih rendah dibandingkan didalam daun, sehingga xylem akan menarik naik lebih banyak air dari akar. Transpirasi sebenarnya menguntungkan tumbuhan. Hasil sampingan yang tidak terhindarkan dari suatu kepentingan telah berubah menjadi keuntungan.Pada umumnya, tumbuhan mampu hidup tanpa transpirasi, namun bila dilakukan juga, tampaknya transpirasi memberikan manfaat.Barangkali sambil mengangkut mineral, mempertahankan turgiditas optimum, dan tentu saja menghilangkan sejumlah besar bahang dari daun (Salisburry dan Ross 1996).
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus-menerus berada dibawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari, karena melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin (Jayamiharja dan Joni 1977).
Tumbuhan yang hidup di gurun pasir atau lingkungan yang kurang air (daerah panas) mislnya kaktus, mempunyai struktur adaptasi yang khusus untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada tumbuhan yang terdapat didaerah panas, jika memiliki daun maka daunnya berbulu, bentuknya kecil-kecil, kulit luar daunnya tebal, mempunyai lapisan lilin yang tebal, dan mempunyai sedikit stomata untuk mengurangi penguapan. Daun juga sering kali terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi, yang melalui peningkatan suhu daun meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air yang hilang sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata, dan hilang ke udara melalui pori stomata (Wilkins 2008).
Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air kedalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya. Sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi, karena sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar infra merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian menaikkan temperatur.Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi (Dwidjoseputro 1994).
Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak diatas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula dan lentisel. Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan layu bahkan mati (Devlin dan Witham 1983).
Faktor yang mempengaruhi transpirasi terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal menurut Gardner (1991) diantaranya adalah:
a.       Penutupan stomata: Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air.
b.      Jumlah dan ukuran stomata: Jumlah dan ukuran stomata dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan. Hal ini mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan penutupan stomata.
c.       Jumlah daun: Makin luas daerah permukaan daun, makin besar laju transpirasi.
d.      Penggulungan atau pelipatan daun: Banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas.
e.       Kedalaman dan proliferasi akar: Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah) sebelum terjadi pelayuan permanen.
Adapun faktor eksternal/lingkungan yang dapat mempengaruhi transpirasi adalah (Dwijoseputro 1994):
a.       Kelembaban: Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang, dengan demikian seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya kelembaban udara. Pada kelembaban udara relatif 50% perbedaan tekanan uap air didaun dan atmosfer 2 kali lebih besar dari kelembaban relatif 70%.
b.      Suhu: Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi dari pada suhu udara.
c.       Cahaya dapat mempengaruhi laju transpirasi melalui Sehelai daun yang terkena sinar matahari langsung akan mengabsorbsi energi radiasi. Cahaya tidak harus selalu berbentuk cahaya langsung, cahaya dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata dengan mekanisme tertentu.
d.      Angin cenderung meningkatkan laju transpirasi, terutama di dalam naungan atau cahaya melalui penyapuan uap air. Akan tetapi di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun dan penurunan laju transpirasi, cenderung menjadi lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air.
e.       Kandungan air tanah: Jika kandungan air tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.















III. METODE PRAKTIKUM
3.1    Waktu dan Tempat
Praktikum tentang luas daun, absorbsi dan transpirasi dilakukan pada rabu, 28 september 2016 di belakang laboratorium KP 2 Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas bangka Belitung.

3.2    Alat dan Bahan
          Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum luas daun, absorbs, dan transpirasi yaitu photometer, ranting tanaman, pisau tajam, statip beserta klemnya, kantong plastik, karet gelang, kertas mini meter block, dan alat tulis.

3.3    Cara Kerja
Siapkan dua buah ranting atau dua buah daun tanaman yang tidak mudah layu. Pilihlah ukuran ranting atau daun yang sama dengan ukuran pipa karet pada photometer. Buatlah ukuran atau jumlah daun ranting kedua tanaman tersebut berbeda. Kemudian lepaskan karet penyumbat pada tabung kaca photometer, masukkan alat ini kedalam bak plastic berisi air. Masukkan ranting kedalam pipa karet photometer, dan tutup rapat mulut pipa kaca utama dengan karet penyumbat. Selanjutnya angkatlah rangkaian percobaan tersebut dan beri tanda posisi awal dari air pada pipa berskala dengan spidol. Kemudian tempatkan rangkaian ini pada tempat yang terkena cahaya.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1    Hasil
Tabel 1. Data pengamatan laju penguapan air (ml) menurut jumlah/ luas daun

Ulangan (n)
Daun A
Daun B
Keterangan
1.      10 menit I
11, 444 cm2
14, 725 cm2

2.      10 menit II
17, 800 cm2
8, 500 cm2

3.      10 menit III
14, 375 cm2
16, 157 cm2

Rerata
14, 54 cm2
13,13 cm2


Tabel 2. Rerata volume penyerapan air (ml) oleh tanaman menurut jumlah/ luas daun
Ulangan
Daun A
(luas: 14, 54 cm2)
Daun B
(luas: 13,13 cm2)
Ket
1.        10 menit I
0,2 ml
0,4 ml

2.        10 menit II
0,7 ml
0,1 ml

3.        10 menit III
0,3 ml
0,6 ml

Rerata
0,4 ml
0,7 ml






4.2    Pembahasan
Daun sering terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi melalui peningkatan suhu dan meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air yang hilang sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata, dan hilang ke udara melalui pori stomata. Transpirasi terjadi karena cahaya matahari menembus lapisan udara tipis sehingga membuat rongga-rongga pada stomata jenuh air dan potensial airnya lebih tinggi dibandingkan dengan di udara sehingga air akan keluar dari potensial air tinggi ke rendah melalui proses penguapan.
Hasil pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pola kecenderungan  antara laju volume dan jumlah luas daun. Pada keenam sample daun akasia yang digunakan volume dan jumlah (luas) daunnya cenderung naik turun. Hal ini karena semakin lebar luas bidang daun maka semakin banyak pula penguapan yang terjadi, artinya volume air yang menguap dari daun semakin banyak, hasil ini sesuai dengan pendapat dari Suyitno (2010)  yang menyatakan bahwa semakin luas daun maka semakin besar absorpsi air, dan sebaliknya semakin sempit luas daun maka akan memperlambat laju absorpsi air.
Penyerapan air paling besar terjadi pada daun A perlakuaan 10 menit ke II, hal ini karena lebar permukaan daun yang digunakan sebagai sample paling besar, selian itu percobaan ini dilakukan pada siang hari pada saat cahaya matahari sedang terik, maka terjadi transpirasi dalam jumlah yang besar dan jumlah stomata yang membuka paling banyak adalah pada daun ini. Percobaan ini sesuai dengan yang dikatakan Suyitno (2010) bahwa selain faktor luas daun, cahaya juga dapat mempengaruhi laju absorpsi air. Pada percobaan tanpa cahaya laju absorpsinya lebih kecil dibandingkan pada percobaan menggunakan cahaya matahari. Hal ini disebabkan cahaya matahari merupakan faktor penting dalam proses transpirasi, stomata akan membuka bila terkena cahaya matahari. Berarti, semakin banyak cahaya matahari semakin banyak jumlah stomata yang membuka dan semakin tinggi laju transpirasinya berikut laju absorpsi nya.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa laju absorbsi dan transpirasi dipengaruhi oleh luas daun dan  cahaya matahari, hal ini karena semakin luas permukaan daun maka semakin cepat laju transpirasi dan absorbsinya, hal ini juga dipengaruhi oleh cahaya matahari karena stomata akan banyak membuka bila terkena sinar matahari, semakin banyak stomata yang terbuka maka semakin cepat pula laju transpirasi dan absorbsinya begitu pula sebaliknya.


DAFTAR PUSTAKA
Devlin RM dan Witham F. 1983. Plant Physiologi (Terjemahan). Quezon City: PWS Publisher
Dwijoseputro. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia
Gardner FPR. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Jayamiharja dan Joni BA. 1977. Diktat Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Purwokerto: Fakultas Pertanian UNSOED
Salisbury, F. B. dan Ross, C.W. 1996. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung: ITB Press
Supraptono D. 2000. Kamus Dasar Agronomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Suyitno. 2010. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar. Yogyakarta: FMIPA UNY
Wilkins. 2008. Fisiologi Tanaman. Jakarta : Bumi Aksara
















 LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
(Luas Daun, Absorbsi dan Transpirasi)


Disusun :

Kelompok IV

Bama Aprilian
2011511012
Desianti Zahra
2011511016
Fitriya
2011511028
Iqbal Maulana
2011511032
Niken Dwiyulivia Yasmin
2011511048
Sannaz Haliza Zain
2011511060
Sri Hapsah Meilinda
2011511066



AGROTEKNOLOGI
FAKULTAS PERIKANAN PERIKANAN DAN BIOLOGI
UNIVERSITAS BANGKA BELITUNG
2016

I.       PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Dalam aktifitasnya tumbuhan selalu melakukan absorbs air dari lingkungannya. Namun demikian tumbuhan juga melakukan pelepasan air berupa uap air melalui seluruh permukaan daun, khususnya melalui stomata. Mekanisme pemasukan dan pelepasan ini terjadi dalam mekanisme control keseimbngan cairan tanaman. Apabia absorbsi dan pelepasan air tidak seimbang maka tumbuhan akan terganggu.
Transpirasi merupakan hilangnya air dari tubuhmbuhan dalam bentuk uap air. Teori apapum yang menjelaskan gerak ke atas air daam xylem harus memperhatikan volume air yang diangkat serta kecepatannya. Misalnya teori vutal yang menyebutkan bahwa perjalanan air hanya dapat terlaksana karna pertolongan sel sel hidup, dalam hal ini sel parenkim kayu dan sel jari jari empulur yang ada disekitar xylem (Dwijoseputro 1994).
Disamping mengeluarkan air dalam bentuk uap air , tumbuhan dapat pula mengeluarkan air dalam bentuk tetesan air yang prosesnya disebut gutasi dengan melalui alat yang disebut hidatoda, yaitu suatu lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering kita jumpai pada spesies tumbuhan tertentu.
Transpirasi yang berlangsung memberikan beberapa manfaat yaitu, menyebabkan terjadinya daya isap daun sehingga transport air dibatang membantu penyerapan air dan zat hara oleh akar, mengurangi air yang terserap secara berlebihan. Mempertahankan temperature yang sesuai untuk daun , mengatur fotosintesis dengan membuka dan menutupnya stomata. Absorbsi air akan ditentukan oleh beberapa factor antara lain tekanan air, kapilaritas, daya hisap daun dan tingkat aktifitas kehidupan.

1.2    Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah utuk mengetahui pengaruh luas daun terhadap kecepatan absorbs air.                                                   


II. TINJAUAN PUSTAKA
Absorpsi adalah proses penyerapan air dan unsur hara oleh tanaman berupa ion-ion dari tanah ke dalam sel-sel akar, yang selanjutnya ditranslokasikan melalui jaringan xylem ke seluruh bagian tumbuhan. Proses masuknya ion-ion kedalam sel-sel akar, sebagai pengganti dari ion-ion yang keluar dari sel akar disebut dengan pertukaran ion. Masuknya ion-ion kedalam kedalam sel-sel akar menggunakan energy dari hasil pernafasan tumbuhan.Ion-ion yang berperan untuk mengatasi tingkat konsentrasi yang lebih tinggi. Jelas bahwa faktor hidup berperan  penting dalam melakukan absorpsi air. Faktor- faktor yang mempengaruhi absorpsi air antara lain adalah tekanan akar, kapilaritas, karakteristik daun (Supraptono 2000).
Tanaman mendapat air melalui proses penyerapan oleh rambut-rambut akar. Air serta garam terlarut akan diteruskan ke seluruh bagian tanaman. Hanya sebagian kecil (kurang dari 1%) dari air diabsorbsi oleh tanaman dipergunakan dalam reaksi metabolisme (hidrolisis). Sebagian besar air diabsorbsi itu akan dikeluarkan lagi dalam  bentuk uap air ke atmosfer melalui proses transpirasi. Kehilangan air pada tumbuhan dapat berlangsung melalui stomata, kultikula, dan lentisel (Salisbury dan Ross 1996)
Penyerapan hara pada tanaman merupakan suatu hal yang kompleks. Tanaman memiliki suatu mekanisme untuk menyerap hara dengan cara transpirasi. Transpirasi adalah kehilangan air pada tanaman.Kehilangan air dari daun ini melibatkan kekuatan untuk menarik air ke dalam daun dari berkas pembuluh. Karena hilangnya konstan air oleh transpirasi melalui stomata (dalam tingkat yang jauh lebih rendah melalui epidermis), sel-sel dalam jaringan daun akan mengalami defisit air. Hal ini disebabkan suhu lingkungan yang memiliki potensial negatif yang lebih rendah dibandingkan didalam daun, sehingga xylem akan menarik naik lebih banyak air dari akar. Transpirasi sebenarnya menguntungkan tumbuhan. Hasil sampingan yang tidak terhindarkan dari suatu kepentingan telah berubah menjadi keuntungan.Pada umumnya, tumbuhan mampu hidup tanpa transpirasi, namun bila dilakukan juga, tampaknya transpirasi memberikan manfaat.Barangkali sambil mengangkut mineral, mempertahankan turgiditas optimum, dan tentu saja menghilangkan sejumlah besar bahang dari daun (Salisburry dan Ross 1996).
Proses transpirasi ini selain mengakibatkan penarikan air melawan gaya gravitasi bumi, juga dapat mendinginkan tanaman yang terus-menerus berada dibawah sinar matahari. Mereka tidak akan mudah mati karena terbakar oleh teriknya panas matahari, karena melalui proses transpirasi, terjadi penguapan air dan penguapan akan membantu menurunkan suhu tanaman. Selain itu, melalui proses transpirasi, tanaman juga akan terus mendapatkan air yang cukup untuk melakukan fotosintesis agar keberlangsungan hidup tanaman dapat terus terjamin (Jayamiharja dan Joni 1977).
Tumbuhan yang hidup di gurun pasir atau lingkungan yang kurang air (daerah panas) mislnya kaktus, mempunyai struktur adaptasi yang khusus untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Pada tumbuhan yang terdapat didaerah panas, jika memiliki daun maka daunnya berbulu, bentuknya kecil-kecil, kulit luar daunnya tebal, mempunyai lapisan lilin yang tebal, dan mempunyai sedikit stomata untuk mengurangi penguapan. Daun juga sering kali terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi, yang melalui peningkatan suhu daun meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air yang hilang sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata, dan hilang ke udara melalui pori stomata (Wilkins 2008).
Kehilangan air dari daun umumnya melibatkan kekuatan untuk menarik air kedalam daun dari berkas pembuluh yaitu pergerakan air dari sistem pembuluh dari akar ke pucuk, dan bahkan dari tanah ke akar. Ada banyak langkah dimana perpindahan air dan banyak faktor yang mempengaruhi pergerakannya. Sinar menyebabkan membukanya stoma dan gelap menyebabkan menutupnya stoma, jadi banyak sinar berarti juga mempergiat transpirasi, karena sinar itu juga mengandung panas (terutama sinar infra merah), maka banyak sinar berarti juga menambah panas, dengan demikian menaikkan temperatur.Kenaikan temperatur sampai pada suatu batas yang tertentu menyebabkan melebarnya stoma dan dengan demikian memperbesar transpirasi (Dwidjoseputro 1994).
Proses hilangnya air dalam bentuk uap air dari jaringan hidup tanaman yang terletak diatas permukaan tanah melewati stomata, lubang kutikula dan lentisel. Transpirasi pada tumbuhan yang sehat sekalipun tidak dapat dihindarkan dan jika berlebihan akan sangat merugikan karena tumbuhan akan layu bahkan mati (Devlin dan Witham 1983).
Faktor yang mempengaruhi transpirasi terdiri dari faktor internal dan faktor eksternal. Adapun faktor internal menurut Gardner (1991) diantaranya adalah:
a.       Penutupan stomata: Sebagian besar transpirasi terjadi melalui stomata karena kutikula secara relatif tidak tembus air, dan hanya sedikit transpirasi yang terjadi apabila stomata tertutup. Jika stomata terbuka lebih lebar, lebih banyak pula kehilangan air.
b.      Jumlah dan ukuran stomata: Jumlah dan ukuran stomata dipengaruhi oleh genotipe dan lingkungan. Hal ini mempunyai pengaruh yang lebih sedikit terhadap transpirasi total daripada pembukaan dan penutupan stomata.
c.       Jumlah daun: Makin luas daerah permukaan daun, makin besar laju transpirasi.
d.      Penggulungan atau pelipatan daun: Banyak tanaman mempunyai mekanisme dalam daun yang menguntungkan pengurangan transpirasi apabila persediaan air terbatas.
e.       Kedalaman dan proliferasi akar: Perakaran yang lebih dalam meningkatkan ketersediaan air dari proliferasi akar (akar per satuan volume tanah) sebelum terjadi pelayuan permanen.
Adapun faktor eksternal/lingkungan yang dapat mempengaruhi transpirasi adalah (Dwijoseputro 1994):
a.       Kelembaban: Gerakan uap air dari udara ke dalam daun akan menurunkan laju neto dari air yang hilang, dengan demikian seandainya faktor lain itu sama, transpirasi akan menurun dengan meningkatnya kelembaban udara. Pada kelembaban udara relatif 50% perbedaan tekanan uap air didaun dan atmosfer 2 kali lebih besar dari kelembaban relatif 70%.
b.      Suhu: Kenaikan suhu dari 180 sampai 200F cenderung untuk meningkatkan penguapan air sebesar dua kali. Suhu daun di dalam naungan kurang lebih sama dengan suhu udara, tetapi daun yang terkena sinar matahari mempunyai suhu 100 – 200F lebih tinggi dari pada suhu udara.
c.       Cahaya dapat mempengaruhi laju transpirasi melalui Sehelai daun yang terkena sinar matahari langsung akan mengabsorbsi energi radiasi. Cahaya tidak harus selalu berbentuk cahaya langsung, cahaya dapat pula mempengaruhi transpirasi melalui pengaruhnya terhadap buka-tutupnya stomata dengan mekanisme tertentu.
d.      Angin cenderung meningkatkan laju transpirasi, terutama di dalam naungan atau cahaya melalui penyapuan uap air. Akan tetapi di bawah sinar matahari, pengaruh angin terhadap penurunan suhu daun dan penurunan laju transpirasi, cenderung menjadi lebih penting daripada pengaruhnya terhadap penyingkiran uap air.
e.       Kandungan air tanah: Jika kandungan air tanah menurun sebagai akibat penyerapan oleh akar, gerakan air melalui tanah ke dalam akar menjadi lebih lambat. Hal ini cenderung untuk meningkatkan defisit air pada daun dan menurunkan laju transpirasi lebih lanjut.















III. METODE PRAKTIKUM
3.1    Waktu dan Tempat
Praktikum tentang luas daun, absorbsi dan transpirasi dilakukan pada rabu, 28 september 2016 di belakang laboratorium KP 2 Fakultas Pertanian, Perikanan dan Biologi Universitas bangka Belitung.

3.2    Alat dan Bahan
          Adapun alat dan bahan yang digunakan pada praktikum luas daun, absorbs, dan transpirasi yaitu photometer, ranting tanaman, pisau tajam, statip beserta klemnya, kantong plastik, karet gelang, kertas mini meter block, dan alat tulis.

3.3    Cara Kerja
Siapkan dua buah ranting atau dua buah daun tanaman yang tidak mudah layu. Pilihlah ukuran ranting atau daun yang sama dengan ukuran pipa karet pada photometer. Buatlah ukuran atau jumlah daun ranting kedua tanaman tersebut berbeda. Kemudian lepaskan karet penyumbat pada tabung kaca photometer, masukkan alat ini kedalam bak plastic berisi air. Masukkan ranting kedalam pipa karet photometer, dan tutup rapat mulut pipa kaca utama dengan karet penyumbat. Selanjutnya angkatlah rangkaian percobaan tersebut dan beri tanda posisi awal dari air pada pipa berskala dengan spidol. Kemudian tempatkan rangkaian ini pada tempat yang terkena cahaya.





IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1    Hasil
Tabel 1. Data pengamatan laju penguapan air (ml) menurut jumlah/ luas daun

Ulangan (n)
Daun A
Daun B
Keterangan
1.      10 menit I
11, 444 cm2
14, 725 cm2

2.      10 menit II
17, 800 cm2
8, 500 cm2

3.      10 menit III
14, 375 cm2
16, 157 cm2

Rerata
14, 54 cm2
13,13 cm2


Tabel 2. Rerata volume penyerapan air (ml) oleh tanaman menurut jumlah/ luas daun
Ulangan
Daun A
(luas: 14, 54 cm2)
Daun B
(luas: 13,13 cm2)
Ket
1.        10 menit I
0,2 ml
0,4 ml

2.        10 menit II
0,7 ml
0,1 ml

3.        10 menit III
0,3 ml
0,6 ml

Rerata
0,4 ml
0,7 ml






4.2    Pembahasan
Daun sering terbuka terhadap tingkat penyinaran tinggi melalui peningkatan suhu dan meningkatkan laju potensial kekurangan air. Kebanyakan air yang hilang sebagai uap dari suatu daun menguap ke permukaan dinding epidermis bagian dalam yang basah dan mesofil yang berdekatan dengan rongga-rongga dibawah stomata, dan hilang ke udara melalui pori stomata. Transpirasi terjadi karena cahaya matahari menembus lapisan udara tipis sehingga membuat rongga-rongga pada stomata jenuh air dan potensial airnya lebih tinggi dibandingkan dengan di udara sehingga air akan keluar dari potensial air tinggi ke rendah melalui proses penguapan.
Hasil pengamatan yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat pola kecenderungan  antara laju volume dan jumlah luas daun. Pada keenam sample daun akasia yang digunakan volume dan jumlah (luas) daunnya cenderung naik turun. Hal ini karena semakin lebar luas bidang daun maka semakin banyak pula penguapan yang terjadi, artinya volume air yang menguap dari daun semakin banyak, hasil ini sesuai dengan pendapat dari Suyitno (2010)  yang menyatakan bahwa semakin luas daun maka semakin besar absorpsi air, dan sebaliknya semakin sempit luas daun maka akan memperlambat laju absorpsi air.
Penyerapan air paling besar terjadi pada daun A perlakuaan 10 menit ke II, hal ini karena lebar permukaan daun yang digunakan sebagai sample paling besar, selian itu percobaan ini dilakukan pada siang hari pada saat cahaya matahari sedang terik, maka terjadi transpirasi dalam jumlah yang besar dan jumlah stomata yang membuka paling banyak adalah pada daun ini. Percobaan ini sesuai dengan yang dikatakan Suyitno (2010) bahwa selain faktor luas daun, cahaya juga dapat mempengaruhi laju absorpsi air. Pada percobaan tanpa cahaya laju absorpsinya lebih kecil dibandingkan pada percobaan menggunakan cahaya matahari. Hal ini disebabkan cahaya matahari merupakan faktor penting dalam proses transpirasi, stomata akan membuka bila terkena cahaya matahari. Berarti, semakin banyak cahaya matahari semakin banyak jumlah stomata yang membuka dan semakin tinggi laju transpirasinya berikut laju absorpsi nya.
V. KESIMPULAN
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa laju absorbsi dan transpirasi dipengaruhi oleh luas daun dan  cahaya matahari, hal ini karena semakin luas permukaan daun maka semakin cepat laju transpirasi dan absorbsinya, hal ini juga dipengaruhi oleh cahaya matahari karena stomata akan banyak membuka bila terkena sinar matahari, semakin banyak stomata yang terbuka maka semakin cepat pula laju transpirasi dan absorbsinya begitu pula sebaliknya.


DAFTAR PUSTAKA
Devlin RM dan Witham F. 1983. Plant Physiologi (Terjemahan). Quezon City: PWS Publisher
Dwijoseputro. 1994. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta: Gramedia
Gardner FPR. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Jakarta: Universitas Indonesia Press
Jayamiharja dan Joni BA. 1977. Diktat Fisiologi Tumbuhan Jilid I. Purwokerto: Fakultas Pertanian UNSOED
Salisbury, F. B. dan Ross, C.W. 1996. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung: ITB Press
Supraptono D. 2000. Kamus Dasar Agronomi. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Suyitno. 2010. Petunjuk Praktikum Fisiologi Tumbuhan Dasar. Yogyakarta: FMIPA UNY
Wilkins. 2008. Fisiologi Tanaman. Jakarta : Bumi Aksara

















Tumis Labu siam

SELASA, 03 OKTOBER 2017 1. siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. (bahan: labu siam, cabai, minyak goreng, garam, sasa (penyedap rasa),...