cut dulu ox, cerita Ana nya...aku tampilin hasil laporan aku aja yach!
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. PENGERTIAN
AQIDAH
Menurut bahasa kata "‘aqidah" diambil dari
kata dasar "al-‘aqdu" yaitu ar-rabth (ikatan), al-Ibraam
(pengesahan), al-ihkam (penguatan), at-tawatstsuq (menjadi kokoh, kuat),
asy-syaddu biquwwah (pengikatan dengan kuat), at-tamaasuk (pengokohan) dan
al-itsbaatu (penetapan). Di antaranya juga mempunyai arti al-yaqiin
(keyakinan) dan al-jazmu (penetapan). Pengertian
Aqidah Secara Istilah (Terminologi). Aqidah menurut istilah adalah perkara yang
wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga
menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidak tercampuri oleh
keraguan dan kebimbangan, dan bahwa ia itu benar serta berlaku selamanya.
B.
HAKIKAT AQIDAH DAN IMAN
Dalam menjelaskan definisi
aqidah ada disebut perkataan kepercayaan atau keimanan. Ini disebabkan Iman
merupakan unsur utama kepada aqidah. Iman ialah perkataan Arab yang berarti
percaya yang merangkumi ikrar (pengakuan) dengan lidah, membenarkan dengan hati
dan mempraktikkan dengan perbuatan. Ini adalah berdasarkan sebuah hadis yang
artinya: “Iman itu ialah mengaku dengan lidah, membenarkan di dalam hati dan
beramal dengan anggota.”(al-Hadis). Walaupun iman itu merupakan peranan
hati yang tidak diketahui oleh orang lain selain dari dirinya sendiri dan Allah
SWT, namun dapat diketahui oleh orang melalui bukti-bukti amalan. Iman tidak
pernah berkompromi atau bersekongkol dengan kejahatan dan maksiat. Sebaliknya,
iman yang mantap di dada merupakan pendorong ke arah kerja-kerja yang sesuai
dan sejalan dengan kehendak dan tuntutan iman itu sendiri.
Aqidah
dapat diartikan juga kumpulan dari hukum-hukum kebenaran yang jelas dan dapat
diterima oleh akal, pendengaran dan perasaan, yang diyakini oleh hati manusia,
dan dipujinya, dipastikan kebenarannya, ditetapkan keshahihannya dan tidak melihat
ada yang menyalahinya dan bahwa ia itu benar serta berlaku selamaanya.
Kalau
orang yakin bahwa (1) Allah mempunyai kehendak sebagaai bagian dari sifatnya
maka orang yakin pula adanya (para) (2) Malaikaat yang diciptakan Allah (melalui
perbuatannya) untuk melaksankan dan menyampaikan kehendak Allah yang dilakukan
oleh malaikat Jibril kepada para
Rasulnya, yang kini dihimpun dalam (3) kitab-kitab suci. Namun, perlu
segera dicatat dan diingatkan bahwa kitab suci yang masih murni dan asli memuat
kehendak allah hanyalah Al-Quran.
Kehendak Allah itu disampaikan kepada manusia melalui manusia pilihan Tuhan
yang disebut Rasulullah atau utusannya. Konsekuensi logisnya adalah kita
meyakini pula adanya para (4) Rasul yang menyampaikan dan menjelaskan kehendak Allah
kepada umat islam, untuk dijadikan pedoman dan kehidupan. Hidup dan kehidupan
ini pasti akan berakhir pada suatu ketika sebagaimana dinyatakan dengan tegas
oleh kitab-kitab suci dan oleh para rasul itu. Akibat logisnya adalah kita
yakin adanya (5) hari akhir, tatkala seluruh hidup dan kehidupan seperti yang
ada sekarang ini akan berakhir. Pada
waktu itu kelak Allah YME dalam perbuatannya itu akan menyediakan suatu
kehidupan baru yang sifatnya Baqa (abadi) tidak fana (sementara) seperti yang
kita lihat dan alaami sekarang. Yakin adanya hidup lain selain hidup sekarang,
dan dimintanya pertanggungjawaban kelak,
membawa konsekuensi pada akan adanya (6) Qada’ dan Qadar yang berlaku dalam
hidup dan kehidupan manusia didunia yang fana ini yang membawa akibat pada
kehidupan dialam baka kelak.
Dari uraian singkat tersebut, tampak
logis dan sistematisnya pokok-pokok keyakinan Islam yang terangkum dalam
istilah rukun Iman itu. Pokok-pokok keyaikanan ini merupakan asas seluruh
ajaran islam, seperti telah disebut diatas. Jumlahnya enam, dimulai dari (1)
kayakian kepada Allh, Tuhan YME, (2) keyakinan pada malaikat-malaikat, (3)
keyakinan pada kitab-kitab suci, (4) keyakian pada para nabi dan Rasul Allah,
(5) keyakinan akan adanya hari akhir, dan (6) keyakinan pada qada dan qadar
Allah. Pokok-pokok keyakinan atau rukun iman ini merupakan Akidah Islam.
1.
Kemahaesaan Allah
Allah adalah esa; satu dalam dzat, sifat dan karya-nya. KeEsaan
Allah merupakan gambaran kemahakuasaan-Nya yang tidak tertandingi oleh apa dan siapapun,
sebab selain Dia adalah ciptaan-Nya belaka. Tauhid merupakan keyakinan akan keEsaan
Allah, yaitu keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Keyakinan akan keEsaan
Allah merupakan ciri utama dari agama Islam yang berbeda dengan agama-agama
lainnya di dunia. Kemahaesaan Tuhan
adalah sebagai berikut :
a.
Allah Maha Esa dalam Zatnya
Kemahaesaan
Allah dalam zatnya dapat dirumuskan dengan kata-kata bahwa zat Allah tidak sama
dan tidak dapat dibandingkan denga apapun juga.
b.
Allah Maha Esa dalam Sifat-sifatnya
Kemahaesaan
Allah dalam sifat-sifatnya ini mempunyai arti bahwa sifat-sifat Allah penuh
kesempurnaan dan keutamaan,tidak ada yang menyamainya. Didalam Al-Qur’an
dijelaskan bahwa ada 99 nama sifat Tuhan yang biasanya disebut dengan Asma’ul
Husna. Perlu diketahui bahwa Allah,Tuhan Yang Maha Esa itu bersifat :
hidup,berkuasa,dan berkehendak.
c.
Allah Maha Esa dalam Perbuatan-perbuatannya
Pernyataan
ini mengandung arti bahwa kita meyakini Tuhan Yang Maha Esa tiada tara dalam
melakukan sesuatu,sehingga hanya dialah yang dapat berbuat menciptakan alam
semesta ini.
d.
Allah Maha Esa dalam Wujudnya
Ini
berarti bahwa wujud Allah lain sama sekali dari wujud alam semesta. Ia tidak
dapat disamakan dan dirupakan dalam bentuk apapun juga.
e.
Allah Maha Esa dalam Menerima Ibadah
Ini
berarti bahwa hanya Allah sajalah yang berhak disembah dan menerima ibadah.
Hanya Dialah satu-satunya yang patut dan harus disembah dan hanya kepadanya
pula kita meminta pertolongan.
f.
Allah Maha Esa dalam Menerima Hajat dan Hasrat
Manusia
Artinya
bila seorang manusia hendak menyampaikan maksud, permohonan atau keinginannya
langsunglah sampaikan kepadanya,kepada Allah sendiri tanpa perantara atau media
apupan namanya. Semua manusia, kecuali para nabi dan rasul, mempunyai kedudukan
yang sama dalam berhubungan langsung dengan Tuhan Yang Maha Esa.
g.
Allah Maha Esa dalam Memberi Hukum
Ini
berarti hanya Allah lah satu-satunya pemberi hukum tertinggi.
2. Keyakinan
Kepada Malaikat
Iman kepada malaikat adalah salah
satu rukun akidah islam seorang mukmin yang tidak sempurna keimanan kecuali
dengan beriman kepada- Nya. Mereka diciptakan Tuhan dari cahaya dengan sifat
dan pembawaan antara lain:
1. Selalu
taat dan patuh kepada Allah
2. Senantiasa
membenarkan dan melaksanakan perintah Allah.
3. Memberi
pertolongan kepada manusia
4. Membantu
perkembangan rohani manusia
5. Membantu
manusia untuk berbuat baik
6. Mencatat
perbuatan mausia
7. Melasanakan
hukuman Allah.
Sesungguhnya
Allah telah menyiapi mereka di dalam Kitab-Nya dengan firman-Nya,
“Dan kepunyaan-Nyalah segala yang dilangit
dan bumi. Dan Malaikat-malaikat yang disisiNya, mereka tidak mempunyai rasa
angkuh untuk menyembahNya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih
malam dan siang tidak
henti-hentinya.” (QS. Al-Anbiya :
19-20)
3. Keyakinan
Kepada Kitab Suci
Kata
kitab berasal dari kata “kitaba, yaktubu,
katban, kitaban, dan kitabatan”, artinya: mengumpulakan beberapa huruf dan
menyatukannya. Kata ini mempunyai makna khusus, kemudian dari kata itu dibuat
kalimat-kalimat yang mempunyai faedah yang disebut kalam. Jadi kitab artinya
adalah sesuatu yang mengandung pembicaraan yang memberi faedah dan mempunyai
banyak tujuan. Makna iman kepada kitab-kitab Tuhan yang merupakan bagian dari
akidah seorang mukmin adalah membenarkan dengan sungguh-sungguh apa yang telah Allah
wahyukan dari firman-Nya yang khusus kepada siapa yang dipilih-Nya dari
rasul-rasul-Nya, lalu dikumpulkan dan diturunkan sehinggga menjadi lembaran-lembaran yang suci
dan ktab-kitab yang lurus. Keyakina kepada kitab-kitab suci merupakan rukun
iman yang ketiga.
Al-Quran
adalah sumber utama ajaran islam. Menurut keyakinan umat islam yamg dibenarkan
melalui penelitian ilmiah, Al-Quran adalah kitab suci yang memuat firman-firman
Allah berupa wahyu yang disampaikan Malaikat Jibril kepada nabi Muhammad sebagai Rasullah sedikit demi sedikit selama
22 tahun 2 bulan dan 22 hari, dimekah tepatnya digua Hira. Isinya adalah
petunjuk atau pedoman umat manusia dalam hidup dan kehidupannya guna mencapai
kesejahteraan didunia ini dan kebahagiannya diakherat kelak. Al-Quran membuat
soal-soal yang berkenan dengan akidah, syari’ah baik ibadah maupun muamalah,
akhlak manusia dalam semua ruang lingkupnya, kisah-kisah umat islam masa
lampau, berita-berita tentang zaman yang
akan datang , benih dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan, dasar- dasar hukum
yang berlaku bagi alam semesta termasuk manusia didalamnya.
Ada
beberapa petunjuk dan kebaikan-kebaikan
dalam Al-Quran diantaranya dalah:
1. Petunjuk
yang menyampaikan kepada segala kebaikan , yang membimbing kepada segala
kesempurnaan, yang menunjukkan kepada kebahagaian dunia dan akhirat
2. Rahmat
dengan maknanya yang paling sempurna, rahmat yang meliputi manusia, jin, dan
hewan, yang besar dan yang kecil yang kafir dan yang mukmin, yang hidup dan
yang mati
3. Kesembuhan
yang sempurna dan umum bagi semua penyakit akal, jiwa, hati, kesembuhan dari
kekufuran dan kesyirikan, kebingungan dan kegoncangan jiwa, kepenatan dan
ketakutan, kesombongan dan iri, malas dan lemah, bakhil dan kezhaliman
4. Cahaya
yang menerangi semua kegelapan hati yang mengihangkan segala kebodohan jiwa
yang menjelaskan segala kebenaran dan rahasia alam
5. Nasehat
yang mengajak untuk mendapatkan semua keutamaan yang menyelamatkan diri dari
segala kehinaan
6. Kabar
gembira tentang kebaikan dunia dan akhirat dan kebahagiaan didalamnya
7. Kebenaran
Tuhan yang ada pada diri-Nya yang menetapkan untuk yang lain-Nya dari semua
yang benar, dimana semua ini menetapkan dan mengukuhkan bahwa Al-Quran adalah
kebenaran
8. Dzikir
kepada Allah yang menghidupkan hati, mengharumkan ruh saat membacanya dan
membersihkan jiwa dikala melasanakannya
9. Kebaikan
yang umum bagi semua manusia, jin dan binatang
10. Penjelasan
bagi segala sesuatu yang manusia butuhkan, yang kepadanya tergantung
kebahagiaannya di dunia dan akhirat
11. Al-Quran
adalah ruh yang menjadi sandaran manusia. Sebab Al-Quran adalah ruh yang
menyertai kehidupan yang utama dan mulia.
Menyeluruh
dalam semua perkara yang dibutuhkan loleh manusia dalam kehidupan agam dan
dunia mereka. Allah berfirman:
“Pada hari ini telah kusempurnakan untuk
kalian agamamu, dan telah Ku-cukupkan padamu ni’mat-Ku, dan telah Ku-ridhai
Islam itu jadi agam bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa
sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang”
(QS. Al-Ma’idah: 3)
Allah
juga berfirman: “Alif Laam Miim Kitab
(AL-Quran) ini tidak ada keraguan padanya: petunjuk bagi mereka yang bertakwa,
(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat dan
menafkahkan kebahagiaan rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka
yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan
Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelumnya, serta mereka yakin akan adanya
(kehidupan) akhirat”. (QS. Al- Baqarah: 1-4)
4. Yakin Kepada Para nabi dan Rsul
Keyakinan pada para Nabi dan Rsul
merupakan kepercayaan akan turun iman yang keempat. Didalam buku-buku ilmu
Tauhid disebutkan bahwa antara nabi dan rasul ada perbedaan tugas utama. Para
nabi menerima turunan berupa wahyu, akan tetapi tidak mempunyai kewajiban
menyampaikan wahyu itu kepada umat manusia. Rasul adalah utusan Allah yang
berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterimannya kepada umat manusia. Oleh
karean itu, seorang Rasul adalah nabi, tetapi seorang nabi belum tentu rasul.
Ada yang berpendapat jumlah para Rasul yang pernah diutus Tuhan ada 313 orang,
sedangkan jumlah para nabi 124.000 orang. Al-Quran tidak menyebutkan jumlah
itu, yang disebut didalam Al-Quran adalah nama 25 nabi. Setelah para nabi dan
rasul yang banyak itu diutus Tuhan untuk memimpin masing-masing umatnya dibumi,
Allah mengutus Nabi Muhammad untuk seluruh umat manusia. Hal ini tercermin
dalam Surat as-Saba’ ayat 28: “Dan kami
tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan kepada umat manusia seluruhnya
sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan tetapi kebanyakan
manusa telah mengetahuinya”
Menurut
para penulis sejarah Nabi dan Rsul , ada beberapa alasan yang menyebabkan Allah
mengutus nabi Muhammad antara lain:
1. Para
Rasul yang mendahului Nabi Muhammad mempunyai Risalah terbatas hanya untuk
bangsa atau diadaerah tertentu
2. Ajaran
para rasul sebelumnya banyaak yang hilang atau sengaja dihilangkan oleh para
pemuka agama bersangkutan
3. Ajaran
para Rasul terdahulu yang bersifat lokal (setempat) temporal (sementara) perlu
disempurnakan dengan ajaran yang universal( meliputi seluruh dunia) dan
enternal (abadi) sifatnya.
Michael
H. Hart berkesimpulan bahwa diantara 100 pakar yang pernah ada dan hidup dalam
sejarah manusia, yang paling berpengaruh pada peradaban dan perkembangan
sejarah manusia adalah Nabi Muhammad. Menurut Hart, dalam bukunya diantara
orang-orang besar yang banyak itu hanya Nabi Muhammad-lah satu-satunya manusia
yang berhasil secara luar biasa dibidang keagamaan dan dalam masalah keduniaan.
Beliau berhasil menegakkan satu diantara
agama-agama besar didunia sekarang dan dalam waktu yang sama menjadi seorang
pemimpin politik yang amat berhasil. Nabi Muhammad adalah Nabi penutup segala
Nabi, Rasul terakhir. Sejarah hidupnya jelas dan lengkap serta terpelihara dari
masa kemasa. Akhlaknya baik, yang biasanya digambarkan dengan kata-kata:
1. Dapat
dipercaya (Amanah)
2. Selalu
benar (Siddiq)
3. Selalu menyampaikan apa yang harus
disampaikannya (Tabligh)
4. Cerdas
dan bijaksana (Fatanah).
Seorang
muslim yang baik akan selalu memepergunakan Al-Quran dan Al-Hadis yang memuat
Rasulullah sebagai untuk disiplin ilmu hukum, ada ayat yang merupakan benih
atau prinsip ilmu hukum sebagaai berikut: “Hai
orang-orang yang beriman jadilah kamu (menjadi) orang yang benar-benar menegakkan
keadilan, menjadi saksi (dalam menegakkan keadilan) karena Allah, walaupun
terhadap dirimu sendiri, ibu bapak dan kaum kerabatmu....”(QS. An-Nisa’135).
Al-Quran
sebagai sumber agama dan ajaran Islam memuat (terutama) soal-soal pokok
berkenan dengan beberapa hal yaitu:
5.
Keyakinan Pada Hari Akhir
Pemahaman
terhadap hari akhir mengandung dua hal yaitu:
1. Kehancuran
semua alam dan berakhirnya seluruh kehidupan dunia
2. Datangnya
kehidupan akhirat dan permulaan kehidupan abadi di akhirat nanti.
Keyakinan
pada hari kiamat ini membuat manusia terbagi kedalam 3 kategori yaitu:
1. Manusia
yang tidak percaya kepada hari akhir dan memandang kehidupan didunia ini
sebagai satu-satunya kehidupan
2. Makhluk
tidak menyangkal hari akhir, tetapi tergantung pada campur tangan atau bantuan
pihak lain untuk mensucikan diri dan menebus dosa-dosanya
3. Manusia-manusia
yang yakin pada hari akherat sebagaimana diterangkan dalam ajaran islam.
Hari akhir segala yang terjadi
didalamnya berupa kejadian-kejadian besar dan kengerian-kengerian. Ahlus sunnah
meyakini hal tersebut sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT: “Serta mereka yakin akan adanya (kehidupan)
akhirat (QS. al- Baqarah: 4)
6. Keyakinan
Kepada Qada dan Qadar
Didalam sejarah islam, perkataan
qada’ dan qadar yang disebut juga takdir dalam pembicaraan sehari-hari, pernah
menimbulkan salah paham terhadap ajaran islam. Hal ini disebabkan karena
perkataan takdir sebagaai sikap yang pasrah kepada nasib tanpa usaha dan
ikhtiar. Untuk menghindari kesalahpahaman pengertin itu, perlu dipahami benar
makna yang dikandung oleh kedua perkataan tersebut. Yang dimaksud Qada’ adalah
ketentuan mengenai sesuatu atau ketetapan akan sesuatu, sedangkan Qadar adalah
ukuran sesuatu menurut hukum tertentu. Dapat pula dikatakan Qada’ adalah
ketentuan atau ketetapan sedangkan Qadar adalah ukuran. Pembenaran yang mantap
bahwa Allah telah menetapkan takdir para makhluk, dan bahwa apa yang
dikehendaki oleh Allah pasti akan terjadi dan yang Dia tidak kehendaki pasti
tidak akan terjadi.
Allah
berfirman “sesungguhnya kami menciptakan
segala sesuatu menurut ukuran” (QS. Al- Qamar: 49)
Allah
juga berfirman: “Dan adalah ketetapan
Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku “ (QS. Al- Ahzab: 38)
C. PEMBAGIAN
AQIDAH
Walaupun masalah qadha’ dan
qadar menjadi ajang perselisihan di kalangan umat Islam, tetapi Allah telah
membukakan hati para hambaNya yang beriman, yaitu para Salaf Shalih yang mereka
itu senantiasa rnenempuh jalan kebenaran dalam pemaharnan dan pendapat. Menurut
mereka qadha’ dan qadar adalah termasuk rububiyah Allah atas makhlukNya. Maka
masalah ini termasuk ke dalam salah satu di antara tiga macam tauhid menurut pembagian ulama:
1.Tauhid Ar-Rububiyyah, ialah
mengesakan Allah dalam ibadah, yakni beribadah hanya kepada Allah dan karenaNya
semata.
2.Tauhid Al-Asma’wa
Ash-Shifat, ialah rnengesakan Allah dalam perbuatanNya, yakni mengimani
dan meyakini bahwa hanya Allah yang Mencipta, menguasai dan mengatur alam
semesta ini.
3.Tauhid Ilahiyah,
ialah mengesakan Allah dalam asma dan sifatNya. Artinya mengimani bahwa tidak
ada makhluk yang serupa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. dalam dzat, asma
maupun sifat.
D. RUANG
LINGKUP PEMBAHASAN AQIDAH
Menurut Hasan
al-Banna sistematika ruang lingkup pembahasan aqidah adalah:
1. Ilahiyat:
Pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Ilahi seperti wujud
Allah dan sifat-sifat Allah, dan lain-lain.
2. Nubuwat:
Pembahasan tentang segala seuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul,
termasuk pembahasan tentang Kitab-Kitab Allah, mu'jizat, dan lain sebagainya.
3. Ruha niyat: Pembahsasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam
metafisik seperti malaikat, Jin, Iblis, Syaitan, Roh dan lain sebagainya.
4. Sam'iyyat: Pembahahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui
lewat sam'I (dalil naqli berupa Al-Quran dan Sunnah) seperti al alam barzakh,
akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga neraka dan lainnya.
E. BAHAYA PENYIMPANGAN AQIDAH
Penyimpangan pada aqidah
yang dialami oleh seseorang berakibat fatal dalam seluruh kehidupannya, bukan
saja di dunia tetapi berlanjut sebagai kesengsaraan yang tidak berkesudahan di
akherat kelak. Dia akan berjalan tanpa arah yang jelas dan penuh dengan
keraguan dan menjadi pribadi yang sakit personaliti. Biasanya penyimpangan itu
disebabkan oleh sejumlah faktor diantaranya :
1. Tidak menguasainya pemahaman aqidah yang benar karena
kurangnya pengertian dan perhatian. Akibatnya berpaling dan tidak jarang
menyalahi bahkan menentang aqidah yang benar
2. Fanatik kepada peninggalan
adat dan keturunan. karena itu dia menolak aqidah yang benar. Seperti firman
Allah SWT tentang ummat terdahulu yang keberatan menerima aqidah yang dibawa
oleh para Nabi dalam Surat AI-Baqarah 170 :
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ
اتَّبِعُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ
آبَاءَنَا ۗ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
Artinya : “Dan apabila dikatakan kepada
mereka, “lkutlah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak),
tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek
moyang kami. ” (Apabila mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang
mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk”
3. Taklid buta kepada perkataan tokoh-tokoh
yang dihormati tanpa melalui seleksi yang tepat sesuai dengan argumen Al-Qur’an
dan Sunnah. Sehingga apabila tokoh panutannya sesat, maka ia ikut tersesat.
4.
Berlebihan dalam mencintai dan mengangkat para wali dan orang sholeh yang sudah
meninggal dunia, sehingga menempatkan mereka setara dengan Tuhan, atau dapat
berbuat seperti perbuatan Tuhan. Hal itu karena menganggap mereka sebagai
penengah antara dia dengan Allah. Kuburan-kuburan mereka dijadikan tempat
meminta, bernadzar dan berbagai ibadah yang seharusnya hanya ditujukan kepada
Allah. Demikian itu pernah dilakukan oleh kaumnya Nabi Nuh as ketika mereka
mengagungkan kuburan para sholihin. Surah Nuh 23 yang artinya : Dan mereka
berkata, "Jangan sekali-kali kamu
meninggalkan (penyembahan) Tuhan-Tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu
meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr.
5. Lengah dan acuh tak acuh dalam mengkaji
ajaran Islam disebabkan silau terhadap peradaban Barat yang materialistik itu.
Tak jarang mengagungkan para pemikir dan ilmuwan Barat serta hasil teknologi
yang telah dicapainya sekaligus menerima tingkah laku dan kebudayaan mereka.
6. Pendidikan di dalam rumah tangga, banyak
yang tidak berdasar ajaran Islam, sehingga anak tumbuh tidak mengenal aqidah
Islam. Apabita anak terlepas dari bimbingan orang tua, maka anak akan
dipengaruhi oleh acara program televisi yang menyimpang, lingkungannya, dan
lain sebagainya.
7. Peranan pendidikan resmi tidak memberikan
porsi yang cukup dalam pembinaan keagamaan seseorang.
F. KIAT-KIAT PEMELIHARAAN AQIDAH
1. Menambah atau Memperdalam Ilmu
Ialah ilmu tauhid itu sendiri secara
keseluruhan. Bila anda telah menguasai ilmu akidah islam secara benar, maka
akan menjadikan anda orang jujur,disiplin dan sopan. Secara umum akan
menjadikan anda kepribadian yang baik.
2. Membiasakan Amal Shahih
Ilmu akidah yang telah anda kuasai itu
wujudkan lah dalam bentuk tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari yang dalam
kacamata islam disebut amal saleh ,baik amal saleh dalam bentuk ibadah mahdah
maupun amal saleh dalam bentuk gharum mahdhah.
3. Membiasakan Berjihad
Firman Allah dalam Q.S 37: 10-11 yang
terjemahanya sebagai berikut :
“Hai orang-orang yang
beriman, suka kah kamu Aku tunjukan suatu perniaagaan yang dapat menyelamatkan
kamu dari azab yang pedih?(yaitu)kamu beriman kepada Allah dan Rasul- Nya dan
berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itu lah yang lebih baik dari
kamu jika kamau mengetahuinya”
4. Berserah diri kepada Allah
Meskipun anda telah berjihad sepanjang hari
dalam kehidupan ini, ada lagi langkah yang harus anda tempuh, yaitu jangan lupa
berserah diri kepada Allah, sebab tidak akan terjadi segala sesuatu diatas bumi
ini kecuali atas izin Allah.
5. Selalu mencari keridaan Allah
Bila anda ingin meraih rida Allah dalam hidup
ini maka lakukan semua aktifitas yang sesuai dengan koridor yang ditetapkan
Allah, yang dijelaskan dan di contohkan RasulNya. Tidak ada artinya kekayaan
kalau diraih dengan cara yang tidak diridhoi Allah.
6. Memakmurkan Masjid
Akhlak mulia, kepribadiaan yang baik itu
perlu tapi dimana diajarkan atau diaman lembaga pendidikanya . Dalam pandangan
Islam salah satu pembinaan watak mulia adalah masjid. Masjid adalah lembaga
pendidikan pertama di zaman Rasullulah. Diharapakan Anda meramaikan masjid untuk
mendidik jiwa anda dismaping utuk menunaikan ibadah.Dari jiwa yang suci akan
lahir kepribadiaan yang baik.
7. Membiasakan berzikir dan membaca serta mendegarkan
Al-quran
Berzikir dapat menumbuh kembangkan potensi
hati yang anda miliki, zikir meliputi seluruh potensi yang dimiliki manusia,
sehingga disebut zikir lidah, zikir hati, zikir otak dan zikir anggota tubuh.
Materi zikir yang paling utama adalah Al-quran sering lah anda membaca Al-quran dan fahami maknanya lalu amalkan
agar anda menjadi pribadi yang baik dalam segala hal.
G. IMPLEMENTASI AQIDAH DALAM KEHIDUPAN
Aqidah memberikan peranan
yang besar dalam kehidupan seseorang, karena:
1.
Tanpa aqidah yang benar, seseorang akan
terbenam dalam keraguan dan berbagai prasangka, yang lama kelamaan akan menutup
pandangannya dan menjauhkan dirinya dari jalan hidup kebahagiaan.
2.
Tanpa aqidah yang lurus, seseorang akan mudah
dipengaruhi dan dibuat ragu oleh berbagai informasi yang menyesatkan keimanan.
Oleh karena itu, akidah sangat dibutuhkan
dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Beberapa implementasi aqidah dalam
kehidupan sehari-hari dapat dilihat dari sisi aqidah dalam individu, keluarga,
kehidupan bermasyarakat, bernegara, maupun pemerintahan. Jika tiap orang mampu
mengimplementasikan aqidah dalam semua aspek kehidupan, maka akan terwujud
kehidupan yang baik pula, baik untuk diri sendiri, keluarganya, masyarakat
disekitarnya maupun bagi bangsa dan negaranya.
H. NILAI
AQIDAH DALAM KEHIDUPAN PRIBADI DAN SOSIAL
Nilai-nilai dalam kehidupan
pribadi dan sosial. Nilai dalam kehidupan tentunya telah diatur sedemikian rupa
oleh masyarakat itu sendiri sehingga masyarakat mengerti akan ketetapan dan
batas-batas dalam bersikap terhadap sesama dan lingkungannya
Aqidah dapat mengendalikan
perasaan seseorang yang kemudian membuat pemilik perasaan-perasaan itu memiliki
pertimbangan penuh dalam melakukan tindakan-tindakannya. Sehingga apa yang kita
lakukan adalah perbuatan yang berdasarkan pada kaidah bahwa Allah melihat dan
mengamati kita di mana saja dan kapan saja. Hal ini akan membuat kita tidak
akan terdorong oleh luapan-luapan perasaan atau tindakan yang melampaui
batas-batas ketentuan Allah. Salah satunya tercermin dengan bersikap bijaksana
dalam berperilaku dan interaksi sosialnya.
Tanpa aqidah, masyarakat
akan berubah menjadi masyarakat Jahiliyah yang diwarnai oleh kekacauan
dimana-mana, masyarakat tersebut akan diliputi oleh perasaan ketakutan dan
kecemasan di berbagai penjuru, karena masyarakatnya menjadi berprilaku liar dan
buas. Yang ada di benak mereka hanyalah perbuatan buruk yang menghancurkan.
Adapun aqidah yang
seharusnya tegak pada masyarakat Islam yaitu aqidah “Laa ilaaha illallah
Muhammadan Rasuulullah.” Makna dari ungkapan tersebut adalah bahwa masyarakat
Islam benar-benar memuliakan dan menghargai aqidah itu dan juga berusaha untuk
memperkuat aqidah tersebut didalam akal maupun hati. Masyarakat itu juga
mendidik generasi Islam untuk memiliki aqidah tersebut serta berusaha menghalau
pemikiran-pemikiran yang tidak benar dan syubhat yang menyesatkan. Masyarakat
tersebut juga berupaya menampakkan (memperjelas) keutamaan-keutamaan aqidah dan
pengaruhnya dalam kehidupan individu maupun sosial dengan perantara dari sarana
alat komunikasi yang berpengaruh dalam masyarakat, seperti masjid-masjid,
sekolah-sekolah, surat-surat kabar, radio, televisi, sandiwara, bioskop dan
seni dalam segala bidang, seperti puisi. prosa, kisah-kisah dan teater. Yang
nantinya diharapkan dapat diserap dengan lebih baik oleh mereka yang
menerimanya.
Demikianlah aqidah dan
pengaruhnya dalam kehidupan masyarakat dan demikianlah hendaknya pengaruh
aqidah dalam setiap masyarakat yang menginginkan menjadi masyarakat Islam, saat
ini dan di masa yang akan datang.
Sesungguhnya aqidah
Islamiyah dengan segala rukun dan karakteristiknya adalah merupakan dasar yang
kokoh untuk membangun masyarakat yang kuat, karena itu bangunan yang tidak
tegak di atas aqidah Islamiyah maka sama dengan membangun di atas pasir yang
mudah runtuh.
Begitulah nilai-nilai
aqidah dalam kehidupan pribadi dan sosial yang mengandung nilai-nilai
kebenaran, keyakinan serta ketaatan. Yang merupakan nilai-nilai yang akan
membentuk pribadi yang baik, bijak dan bermanfaat untuk lingkungannya sehingga
nanti secara otomatis dapat menciptakan masyarakat yang rukun yang berakhlak
mulia serta bermanfaat.
I. NILAI
AQIDAH DALAM IPTEK
Keutuhan antara iman, ilmu
dan amal atau syariah dan akhlak dapat dilakukan dengan menganalogikan dinul
Islam bagaikan sebatang pohon yang baik. Ini merupakan gambaran bahwa antara
iman, ilmu dan amal merupakan suatu kesatuan yang utuh tidak dapat dipisahkan
antara satu sama lain. Iman diidentikkan dengan akar dari sebuah pohon yang
menupang tegaknya ajaran Islam, ilmu bagaikan batang pohon yang mengeluarkan
dahan. Dahan dan cabang-cabang ilmu pengetahuan. Sedangkan amal ibarat buah
dari pohon itu seperti seni budaya, filsafat, dan Iptek yang dikembangkan di
atas nilai-nilai iman dan ilmu akan menghasilkan amal shaleh bukan kerusakan
alam. Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diketahui manusia melalui
tangkapan pancaindera, ilustrasi dan firasat, sedangkan ilmu adalah pengetahuan
yang telah diklasifikasi, diorganisasi, disistematisasi dan diinterpretasikan
sehingga menghasilkan kebenaran obyektif, telah diuji kebenarannya dan dapat
diuji ulang secara ilmiah. Dalam kajian filsafat setiap ilmu membatasi diri
pada salah satu bidang kajian. Karena seseorang yang memperdalam ilmu tertentu
disebut sebagai spesialis, sedangkan orang yang banyak tahu tapi tidak
memperdalam disebut generalis. Dengan keterbatasan kemampuan manusia, maka
sangat jarang ditemukan orang yang menguasai beberapa ilmu secara mendalam.
Istilah teknologi merupakan
produk ilmu pengetahuan dalam sudut pandang budaya dan teknologi merupakan
salah satu unsur budaya sebagai hasil penerapan praktis dari ilmu pengetahuan.
Meskipun pada dasarnya teknologi juga memiliki karakteristik obyektif dan
netral, akan tetapi dalam situasi seperti ini teknologi tidak netral lagi
karena memiliki potensi yang merusak dan potensi kekuasaan, disitulah letak
perbedaan antara ilmu pengetahuan dan teknologi.
Teknologi dapat membawa
dampak positif berupa kemajuan dan kesejahteraan bagi manusia juga sebaliknya
dapat membawa dampak negatif berupa ketimpang-ketimpangan dalam kehidupan
manusia dan lingkungan. Netralitas teknologi dapat digunakan untuk yang
memanfaatkan yang sebesar-besarnya bagi kehidupan manusia atau digunakan untuk
menghancurkan manusia itu sendiri. Seni adalah hasil ungkapan akal dan budi
manusia dengan segala prosesnya, seni juga merupakan ekspresi jiwa seseorang kemudian
hasil ekspresi jiwa tersebut dapat berkembang menjadi bagian dari budaya
manusia, karena seni itu diidentik dengan keindahan.
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Aqidah sangat berperan
penting bagi kehidupan setiap manusia. Baik dalam kehidupan pribadi dan sosial.
Aqidah mengandung nilai-nilai kebenaran,
keyakinan serta ketaatan. Yang merupakan nilai-nilai yang akan membentuk
pribadi yang baik, bijak dan bermanfaat untuk lingkungannya sehingga nanti
secara otomatis dapat menciptakan masyarakat yang rukun yang berakhlak mulia
serta bermanfaat.
B. Saran
Kita sebagi umat muslim hendaknya memegang teguh
akidah kita, karena dengan aqidah insyaalah diri kita akan terus yakin kepada
Allah SWT. Dengan memegang teguh akidah kita, iman dan ketakwaan serta kepercayaan kita
kepada Allah tidak akan pudar.
Selain itu, Aaqidah Islamiyah dengan
segala rukun dan karakteristiknya adalah merupakan dasar yang kokoh untuk membangun
masyarakat yang kuat, sebab Aqidah menunjang berbagai aspek kehidupan, mulai
dari kepercayaan, keyakinan sampai ilmu teknologi.
DAFTAR PUSTAKA
Ali,
Muhammad Daud. 2006. Pendidikan Agama
Islam. Jakarta: PT Raja Grafindo
Persada
Muhammad,
Asy- Syaikh Al- Faqih, Syaikh Abdus Salam. 2009. Aqidah Muslim Dalam Tinjauan Al-Quraan dan As-Sunnah. Bekasi:
Maktabaah Daar El Salam