baru balik ke blog, kayaknya malem ini juga gak bisa deh ngelanjutin cerita tentang Ana.
aku posting tentang lain aja ya, soalnya sekarang lagi nonton drama cheese in the trap, penasaran banget liat kisahnya gitu......
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kepulauan Bangka Belitung
merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki budaya yang beragam,
baik itu seni maupun budaya daerah yang berada dikampung- kampung sekitarnya.
Tidak hanya budaya keseharian yang dimilki Bangka Belitung, namun juga budaya(
adat atau kebiasaan) pada bulan tertentu juga banya dimiliki Bangka Belitung.
Seperti, perayaan maulid nabi yang perayaannya teerkenal berbeda, ada juga
acara ruahan yang juga memiliki makna dan adat kebiasaan yang tidak seperti
masyarakat umum biasanya.
Tidak
hanya itu saja, di Bangka Belitung juga ada kebiasaan perayaan pada bulan
ramadhan, seperti malam takbiiran, acara nganggung, sholawat bersama, lomba-
lomba dan lain sebagainya. Salah satu adat atau kebiasaan yang jarang ada pada
provinsi lain adalah salah satunya acara 7 likur.
7 likur ini merupakan kebiasaan
yang sudah dilakukan sejak dari para tertua pendahulu, jadi 7 likur ini
merupakan adat atau kebiasaan turun temurun yang sudah lazim adanya di bangka
belitung. Namun, akhir- akhir ini ada beberapa daerah di Bangka Belitung yang
sudah melupakan acara 7 likur di bulan ramadhan, bahkan ada sebagian anak muda
Bangka Belitung yang tidak tahu tentang malam 7 likur. Padahal dengan adanya
malam 7 likur ini bisa menambah keakraban antar warga sekitar bahkan antar warga Bangka Belitung.
Hal ini karena pengaruh kebiasaan
dari luar daerah, sehingga banyak anak muda yang melupakan adat kebiasaan di
daerah mereka. Padahal 7 likur ini berpotensi bisa menjadi salah satu pariwisata
Bangka Belitung yang akan banyak di gandrungi oleh banyak orang. Karena, 7
likur ini selain menampilkan adat juga menampilkan keindahan yang menawan dari
barisan lampu- lampu pelita minyak tanah dengan berbagai hisan pestival yang
menawan.
Dari hal inilah karya tulis ini
dibuat, supaya bisa menjadi bahan tinjaun untuk mengenal lebih lagi tentang
malam 7 likur. Supaya malam 7 likur ini tidak punah dan bisa terus dilestarikan
menjadi kegiatan anak muda Bangka Belitung, yang bermanfaat baik itu dari segi
adat budaya maupun pariwisatanya.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
sejarah 7 likur?
2.
Apa
saja kendala yang dihadapi untuk melestarikan malam 7 likur?
3.
Bagaimana
cara melestarikan dan membuka peluang agar 7 likur menjadi aset wisata Bangka Belitung?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui sejarah 7 likur
2.
Untuk
mengatasi kendala yang dihadapi untuk melestarikan malam 7 likur
3.
Untuk
melihat peluang 7 likur sebagai aset wisata kepualauan Bangka Belitung
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
7 Likur
Lampu tujuh likur adalah pelita
yang dinyalakan menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Lebih terkenal dengan
nama 7 likur karena memang dimulai dinyalakan di sepuluh hahri menjelang idul
fitri. Bagi anak-anak, 7 likur tidak hanya simbol budaya, namun juga pertanda
bahwa sebentar lagi akan lebaran.
Malam 7 likur merupakan malam
peringatan lailatul qadar atau malam ke 27 ramadhan, dimna para maalikat akan
turun kebumi. Maka orang-orang terdahulu memasang pelita di dekat rumah mereka. Kononnya pelita
bertujuan untuk menunjukkan jalan bagi para malaikat untuk singgah kerumah
mereka. Dan kebiasaan itu diikuti oleh anak cucu mereka hingga sekarang. Namun
sayangnya kebiasan itu mulai pudar seiring berjalanya zaman. Banyak yang
beranggapan dikampung, tujuh likur sebagai simbol syukur karena Allah SWT masih
menyampaikan kita kebulan yang penuh berkah itu. Apalagi, 10 malam terakhir (
mulai malam ke-21) Allah SWT menjanjikan pahala yang berlimpah dengan malam Lailatul Qodar. Biasanya malam
tujuh likur dilaksanakan setelah solat terawih sebelumnya dilaksanakan acara
dimulai dengan berbuka puasa bersama antar warga denngan tradisi nganggung.
Suasana keagungan malam tujuh likur, sejatinya bagi masyarakat Desa Mancung
bertujuan ingin menerangi jalannya malaikat yang turun pada malam Lailatul
Qadar di bulan Ramdhan.
Selain keindahan yang terlihat,
masyarakat Desa mancung sangat semangat bergotong royong dalam proses pembuatan
gapura yang titik api yang terbuat dari lampu sentir tradisional yang terbuat
dari botol bekas minumann energi, sumbu kompor dan minyak tanah. Dan juga untuk
lebih meriahnya masyarat Desa Mancung mengadakan perlombaan dalam mebuat gapura
menurut kreatifitas pesertanya.
Dengan semakin perkembangan zaman
anak-anak muda zaman sekarang lebih mementingan untuk berhura-hura dari pada
melestarikan adat kebiasaan yang sudah ada sejak dulu ini. Sehingga adat
kebiasaan ini lambat laun mulai pudar.
B. Kendala
yang Dihadapi untuk Melestarikan Malam 7 Likur
Mungkin kebanyakan orang berpikir
malam 7 likur itu menyita waktu dan menyusahkan, bahkan ada sebagian orang
berpikir bahwa malam 7 likur itu mengganggu ibadah kita dibulan ramadhan.
Sebenarnya itu semua hanya alasan untuk ketidakmauan dan kemalasan mereka saja.
Malam 7 likur yang prayaannya mnggunakan lampu pelita tidak diwajibkan untuk
dilakuakan malam bulan ramadhan itu saja. Untuk menyambut lailatul qadr itu
sendirikan kita tidak boleh meninggalkan ibadah, kita tetap akan beribadah
seperti biasanya. Namun, bagi yang ingin mengisi lampu pelita diluar ruamahnya
dipersilahkan, karna memang kebiasaan kita. Ini semta- mata bukan syirik, namun
ini kembali kepada pribadi masing-masing.
Untuk merayakan malam 7 likur
dengan megah misalnya bisa dilkukan seminggu setelah bulan ramadhan. Salah satu
contoh dari desa yabg ada di Babel
sekarang yang masih menjujung tinggi acara ini adalah Desa Mancung Kecamtan
Kelapa, Kabupaten Bangka Barat. Memang acra mereka terkesan mewah, karena
selain ada karnaval dari desa juga sering dinudang para aris-artis untuk
mengibur para peserta dan orang-orang dari desa lain yang ingin meliht
kemegahan acara ini.
Dilihat dari sini, pasti muncul
pertanyaan bahwa pasti akan memakan banyak biaya. Sebenarnya tidak apabila
orang pada daerah tertentu kompak untuk melakukan acara ini. Karena modalnya
hanya lampu pelita yang dibuat dari botol-botol beling bekas. Dan bahan untuk
karnavalnya bida mencari kayu dihutan dan bahan-bahan beakas lain yang bisa
dipakai.
Bekerja sama, itu yang dilakukan
oleh masyarakat didesa mancung ini, saat akan merayakannya, berminggu-minggu
sebelum perayaannya mereka sudah bergotong royong untuk membuat peralatan yang
akan diguanakn pada malam 7 likur. Saya pernah pergi ke Desa Mncung seminggu
sebelum peryaan malam 7 likur, yang saya lihat mereka sangat kompak, mulai dari
anak-anak hingga dewasa semuanya bekerja untuk mempersiapkan acaranya. Mereka bisa
menyissihkan sedikit waktu mereka untuk berkumpul bersama demi membagun desa
mereka.
C. Cara
Melestarikan Malam 7 Likur
Sebagaimana yang diketahui bahawa
di Bangka Belitung ini bahwa keberadaan 7 likur sudah mulai pudar, bahkan
sekarang banyak anak Bangka Belitung yang tidak tahu apa itu malam 7 likur.
Keadaan ini sangat memprihatinkan, bagaimana tidak adat yang sudh ada dari dulu
ini, pudar karena masuknya budaya dari luar yang membuat anak muda Babel
menjadi pemalas. Mereka lebih memilih untuk bermain gadget mereka dari pada
menambah keakraban diluar untuk merayakan malam yang begitu gemilang ini.
Sebenarnya malam 7 likur ini bisa dijadikan sebagai alat keakraban antar
sesama. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sekarang ini anak muda sudah mulai
acuh antar sesama mereka karena mereka terbawa ego akan kesombongan diri
sendiri dan tidak perduli akan orang lain.
Maka dari itu kami berpikir
bagaiman caranya melestarikan adat yang sudah mulai hilang ini. Pertama kita
bisa menanamkan rasa kepedulian kita lagi akan budaya yang ada di Babel ini.
Jangan hanya bermalas-malasan dirumah saja, namun bagunlah rasa perduli kita
dengan rasa kesenangan. Anggap bahwa apa yang kita lakukan itu akan berguna bagi
siapa saja. Jangan menganggap bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah beban,
untuk mempersiapkan malam 7 likur ini sangat lah mudah dan tidak membutuhkan
biaya yang besar, cukup dengan kekompakan dan kerjasama.
Cara untuk melestarikan adat
kebiasaan 7 likur supaya tidak hilang dan selalu dilakukan masyarakatnya, kita
harus melaksanakan kebiasaan itu pada waktu yang sudah tepat. Masyarakat harus
mengadakan sesuatu supaya acara 7 likurnya meriah dan selalu dikenang. Tidak
hanya pada Desa Mancung saja yang bisa melaksanakannya secara meriah, desa-desa
lain bisa jika masyarakat desanya kompak dan bisa menjalin hubungan
kekeluargaan. Sekarang ini masyarakatnya mulai malas mengadakan sesuatu, dan
akibatnya adat kebiasaan yang dulu ada kini sudah memulai memudar. Oleh karena
itu, agar adat kebiasaan 7 Likur tetap dilestarikan masyarakat Babel harus
turut serta dalam malam 7 likur bukan hanya pada Desa Mancung saja.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik
dari hasil pembahasan yang telah didiskusikan adalah 7 likur ini merupakan
kebiasaan yang sudah dilakukan sejak dari para tertua pendahulu, jadi 7 likur
ini merupakan adat atau kebiasaan turun temurun yang sudah lazim adanya di
bangka belitung. Banyak yang beranggapan dikampung, tujuh likur sebagai simbol
syukur karena Allah SWT masih menyampaikan kita kebulan yang penuh berkah itu.
Cara untuk lebih melestarikan budaya tujuh likur adalah menanamkan rasa
kepedulian, bangunkan sifat kekompakan dan kerjasama antar warga, selalu
menjalin hubungan kekeluargaan, dan selalu partisipasi dalam acara malam tujuh
likur.
B. Saran
Dengan
berkembangnya zaman modern, budaya yang terdapat dalam suatu desa kini memudar
salah satunya Malam Tujuh Likur di Kepulauan Bangka Belitung. Hanya satu desa
yang biasanya selalu rayakan termasuk Desa Mancung. Jadi untuk desa lainnya
lebih ditingkatkan lagi partisipasi supaya budaya yang di Babel ini tidak mulai
memudar dan tidak akan dilupakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar