Jumat, 20 Mei 2016

tujuh likur di bangka belitung

gomen minna!!!!!
baru balik ke blog, kayaknya malem ini juga gak bisa deh ngelanjutin cerita tentang Ana.
aku posting tentang lain aja ya, soalnya sekarang lagi nonton drama cheese in the trap, penasaran banget liat kisahnya  gitu......


PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Kepulauan Bangka Belitung merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki budaya yang beragam, baik itu seni maupun budaya daerah yang berada dikampung- kampung sekitarnya. Tidak hanya budaya keseharian yang dimilki Bangka Belitung, namun juga budaya( adat atau kebiasaan) pada bulan tertentu juga banya dimiliki Bangka Belitung. Seperti, perayaan maulid nabi yang perayaannya teerkenal berbeda, ada juga acara ruahan yang juga memiliki makna dan adat kebiasaan yang tidak seperti masyarakat umum biasanya.
Tidak hanya itu saja, di Bangka Belitung juga ada kebiasaan perayaan pada bulan ramadhan, seperti malam takbiiran, acara nganggung, sholawat bersama, lomba- lomba dan lain sebagainya. Salah satu adat atau kebiasaan yang jarang ada pada provinsi lain adalah salah satunya acara 7 likur.
7 likur ini merupakan kebiasaan yang sudah dilakukan sejak dari para tertua pendahulu, jadi 7 likur ini merupakan adat atau kebiasaan turun temurun yang sudah lazim adanya di bangka belitung. Namun, akhir- akhir ini ada beberapa daerah di Bangka Belitung yang sudah melupakan acara 7 likur di bulan ramadhan, bahkan ada sebagian anak muda Bangka Belitung yang tidak tahu tentang malam 7 likur. Padahal dengan adanya malam 7 likur ini bisa menambah keakraban antar warga sekitar  bahkan antar warga Bangka Belitung.
Hal ini karena pengaruh kebiasaan dari luar daerah, sehingga banyak anak muda yang melupakan adat kebiasaan di daerah mereka. Padahal 7 likur ini berpotensi bisa menjadi salah satu pariwisata Bangka Belitung yang akan banyak di gandrungi oleh banyak orang. Karena, 7 likur ini selain menampilkan adat juga menampilkan keindahan yang menawan dari barisan lampu- lampu pelita minyak tanah dengan berbagai hisan pestival yang menawan.
Dari hal inilah karya tulis ini dibuat, supaya bisa menjadi bahan tinjaun untuk mengenal lebih lagi tentang malam 7 likur. Supaya malam 7 likur ini tidak punah dan bisa terus dilestarikan menjadi kegiatan anak muda Bangka Belitung, yang bermanfaat baik itu dari segi adat budaya maupun pariwisatanya.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana sejarah 7 likur?
2.      Apa saja kendala yang dihadapi untuk melestarikan malam 7 likur?
3.      Bagaimana cara melestarikan dan membuka peluang agar 7 likur menjadi aset wisata Bangka Belitung?
C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui sejarah 7 likur
2.      Untuk mengatasi kendala yang dihadapi untuk melestarikan malam 7 likur
3.      Untuk melihat peluang 7 likur sebagai aset wisata kepualauan Bangka Belitung
BAB II
PEMBAHASAN
A.     Sejarah 7 Likur
Lampu tujuh likur adalah pelita yang dinyalakan menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Lebih terkenal dengan nama 7 likur karena memang dimulai dinyalakan di sepuluh hahri menjelang idul fitri. Bagi anak-anak, 7 likur tidak hanya simbol budaya, namun juga pertanda bahwa sebentar lagi akan lebaran.
Malam 7 likur merupakan malam peringatan lailatul qadar atau malam ke 27 ramadhan, dimna para maalikat akan turun kebumi. Maka orang-orang terdahulu memasang  pelita di dekat rumah mereka. Kononnya pelita bertujuan untuk menunjukkan jalan bagi para malaikat untuk singgah kerumah mereka. Dan kebiasaan itu diikuti oleh anak cucu mereka hingga sekarang. Namun sayangnya kebiasan itu mulai pudar seiring berjalanya zaman. Banyak yang beranggapan dikampung, tujuh likur sebagai simbol syukur karena Allah SWT masih menyampaikan kita kebulan yang penuh berkah itu. Apalagi, 10 malam terakhir ( mulai malam ke-21) Allah SWT menjanjikan pahala yang berlimpah  dengan malam Lailatul Qodar. Biasanya malam tujuh likur dilaksanakan setelah solat terawih sebelumnya dilaksanakan acara dimulai dengan berbuka puasa bersama antar warga denngan tradisi nganggung. Suasana keagungan malam tujuh likur, sejatinya bagi masyarakat Desa Mancung bertujuan ingin menerangi jalannya malaikat yang turun pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramdhan. 
Selain keindahan yang terlihat, masyarakat Desa mancung sangat semangat bergotong royong dalam proses pembuatan gapura yang titik api yang terbuat dari lampu sentir tradisional yang terbuat dari botol bekas minumann energi, sumbu kompor dan minyak tanah. Dan juga untuk lebih meriahnya masyarat Desa Mancung mengadakan perlombaan dalam mebuat gapura menurut kreatifitas pesertanya.
Dengan semakin perkembangan zaman anak-anak muda zaman sekarang lebih mementingan untuk berhura-hura dari pada melestarikan adat kebiasaan yang sudah ada sejak dulu ini. Sehingga adat kebiasaan ini lambat laun mulai pudar.

B.     Kendala yang Dihadapi untuk Melestarikan Malam 7 Likur
Mungkin kebanyakan orang berpikir malam 7 likur itu menyita waktu dan menyusahkan, bahkan ada sebagian orang berpikir bahwa malam 7 likur itu mengganggu ibadah kita dibulan ramadhan. Sebenarnya itu semua hanya alasan untuk ketidakmauan dan kemalasan mereka saja. Malam 7 likur yang prayaannya mnggunakan lampu pelita tidak diwajibkan untuk dilakuakan malam bulan ramadhan itu saja. Untuk menyambut lailatul qadr itu sendirikan kita tidak boleh meninggalkan ibadah, kita tetap akan beribadah seperti biasanya. Namun, bagi yang ingin mengisi lampu pelita diluar ruamahnya dipersilahkan, karna memang kebiasaan kita. Ini semta- mata bukan syirik, namun ini kembali kepada pribadi masing-masing.
Untuk merayakan malam 7 likur dengan megah misalnya bisa dilkukan seminggu setelah bulan ramadhan. Salah satu contoh dari desa  yabg ada di Babel sekarang yang masih menjujung tinggi acara ini adalah Desa Mancung Kecamtan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat. Memang acra mereka terkesan mewah, karena selain ada karnaval dari desa juga sering dinudang para aris-artis untuk mengibur para peserta dan orang-orang dari desa lain yang ingin meliht kemegahan acara ini.
Dilihat dari sini, pasti muncul pertanyaan bahwa pasti akan memakan banyak biaya. Sebenarnya tidak apabila orang pada daerah tertentu kompak untuk melakukan acara ini. Karena modalnya hanya lampu pelita yang dibuat dari botol-botol beling bekas. Dan bahan untuk karnavalnya bida mencari kayu dihutan dan bahan-bahan beakas lain yang bisa dipakai.
Bekerja sama, itu yang dilakukan oleh masyarakat didesa mancung ini, saat akan merayakannya, berminggu-minggu sebelum perayaannya mereka sudah bergotong royong untuk membuat peralatan yang akan diguanakn pada malam 7 likur. Saya pernah pergi ke Desa Mncung seminggu sebelum peryaan malam 7 likur, yang saya lihat mereka sangat kompak, mulai dari anak-anak hingga dewasa semuanya bekerja untuk mempersiapkan acaranya. Mereka bisa menyissihkan sedikit waktu mereka untuk berkumpul bersama demi membagun desa mereka.

C.     Cara Melestarikan Malam 7 Likur
Sebagaimana yang diketahui bahawa di Bangka Belitung ini bahwa keberadaan 7 likur sudah mulai pudar, bahkan sekarang banyak anak Bangka Belitung yang tidak tahu apa itu malam 7 likur. Keadaan ini sangat memprihatinkan, bagaimana tidak adat yang sudh ada dari dulu ini, pudar karena masuknya budaya dari luar yang membuat anak muda Babel menjadi pemalas. Mereka lebih memilih untuk bermain gadget mereka dari pada menambah keakraban diluar untuk merayakan malam yang begitu gemilang ini. Sebenarnya malam 7 likur ini bisa dijadikan sebagai alat keakraban antar sesama. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa sekarang ini anak muda sudah mulai acuh antar sesama mereka karena mereka terbawa ego akan kesombongan diri sendiri dan tidak perduli akan orang lain.
Maka dari itu kami berpikir bagaiman caranya melestarikan adat yang sudah mulai hilang ini. Pertama kita bisa menanamkan rasa kepedulian kita lagi akan budaya yang ada di Babel ini. Jangan hanya bermalas-malasan dirumah saja, namun bagunlah rasa perduli kita dengan rasa kesenangan. Anggap bahwa apa yang kita lakukan itu akan berguna bagi siapa saja. Jangan menganggap bahwa apa yang kita lakukan adalah sebuah beban, untuk mempersiapkan malam 7 likur ini sangat lah mudah dan tidak membutuhkan biaya yang besar, cukup dengan kekompakan dan kerjasama.
Cara untuk melestarikan adat kebiasaan 7 likur supaya tidak hilang dan selalu dilakukan masyarakatnya, kita harus melaksanakan kebiasaan itu pada waktu yang sudah tepat. Masyarakat harus mengadakan sesuatu supaya acara 7 likurnya meriah dan selalu dikenang. Tidak hanya pada Desa Mancung saja yang bisa melaksanakannya secara meriah, desa-desa lain bisa jika masyarakat desanya kompak dan bisa menjalin hubungan kekeluargaan. Sekarang ini masyarakatnya mulai malas mengadakan sesuatu, dan akibatnya adat kebiasaan yang dulu ada kini sudah memulai memudar. Oleh karena itu, agar adat kebiasaan 7 Likur tetap dilestarikan masyarakat Babel harus turut serta dalam malam 7 likur bukan hanya pada Desa Mancung saja.































BAB III
PENUTUP
A.     Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan yang telah didiskusikan adalah 7 likur ini merupakan kebiasaan yang sudah dilakukan sejak dari para tertua pendahulu, jadi 7 likur ini merupakan adat atau kebiasaan turun temurun yang sudah lazim adanya di bangka belitung. Banyak yang beranggapan dikampung, tujuh likur sebagai simbol syukur karena Allah SWT masih menyampaikan kita kebulan yang penuh berkah itu. Cara untuk lebih melestarikan budaya tujuh likur adalah menanamkan rasa kepedulian, bangunkan sifat kekompakan dan kerjasama antar warga, selalu menjalin hubungan kekeluargaan, dan selalu partisipasi dalam acara malam tujuh likur.

B.     Saran
Dengan berkembangnya zaman modern, budaya yang terdapat dalam suatu desa kini memudar salah satunya Malam Tujuh Likur di Kepulauan Bangka Belitung. Hanya satu desa yang biasanya selalu rayakan termasuk Desa Mancung. Jadi untuk desa lainnya lebih ditingkatkan lagi partisipasi supaya budaya yang di Babel ini tidak mulai memudar dan tidak akan dilupakan.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tumis Labu siam

SELASA, 03 OKTOBER 2017 1. siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. (bahan: labu siam, cabai, minyak goreng, garam, sasa (penyedap rasa),...