Senin, 09 Mei 2016

laporan pelajaran Komputer terapan

minna-san, baru balik lagi nih dengan blog baru, blog sebelumnya udah rusak. jadi ikuti terus ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!postingan aku.............



2016


Jurusan: Agroteknologi



Nama: Fitriya





[pemanfaat limbah air bekas rendaman lateks sebagai pupuk tanaman kelapa sawit]
MATA KULIAH - KOMPUTER TERAPAN




Daftar Isi
Halaman Judul.....................................................................................................................
Daftar Isi............................................................................................................................ i
Pendahuluan...................................................................................................................... 2
Pembahasan
A.    Apa Air Bekas Rendaman Lateks Itu?.................................................................. 4
B.     Kandungan  Air Bekas Rendaman Lateks............................................................ 4
C.     Manfaat Air Bekas Rendaman Lateks Bagi Tumbuhan........................................ 5
D.    Penyiraman Air Bekas Rendaman Lateks Pada Tanaman Kelapa Sawit.............. 5
E.     Dampak dan Kendala Pemupukan Menggunakan Air Bekas Rendaman Lateks. 7
Kesimpulan........................................................................................................................ 8


PENDAHULUN
            Dalam dunia pertanian, selalu dilakukan penelitian untuk meningkatkan daya guna tanaman, maupun teknologi atau alternatif lainnya yang bisa bermanfaat bagi tanaman, asalkan teknologi itu bermanfaat untuk menambah produktifitas tanaman pertanian. Karena di Indonesia sendiri yang merupakan iklim tropis memiliki potensi yang besar untuk meningkatkan ilmu pengetahuan tentang pertanian. Dengan cuaca dan bumi yang masih dibilang lebih bagus dari negara lain seharusnya pertanian Indonesia bisa lebih baik lagi dari negara – negara tetangga.
            Kecenderungan para peneliti biasanya meneliti tentang memuliakan tanaman, yaitu mencari ide – ide baru untuk menghasilkan bibit yang lebih baik dari sebelumnya atau mencari ilmu utnuk menghasilkan jenis tanaman yang unik dan mudah untuk dimanfaatkan. Tidak hanya untuk mencari jenis tanaman unggul yang baru, namun juga mencari alternatif lain untuk meningkatkan hasilkan hasil produktifitasnya, mulai dari pengolahan lahan yang baik, menentukan jenis Ph yang baik bagi tanaman, mencari tanah yang subur, menghilangkan serangga tanaman, dan lain sebagainya.
            Yang paling banyak menjadi perhatian indonesia adalah meningkatkan hasil produktifitas pertanian, karena di Indonesia kebutuhan akan pangan terutama sayuran atau bahan pokok utama yaitu padi, hal ini disebabkan membludaknya jumlah penduduk Indonesia yang sangat banyak. Sehingga pemerintah tidak mampu lagi memenuhi kebutuhannya, maka dari itu untuk mengurangi beban indonesia yang terus mengimpor pangan dari luar, maka dilakukanlah banyak penelitin tantang pertanian.s
            Salah satu yang juga sering di teliti di Indonesia sendiri guna untuk meningkatkan produktifitas pertanian adalah tentang pupuk, karena pupuk lah salah satu yang sangat berguna untuk meningkatkan pertumbuhan baik buruknya tanaman, karena masuk dalam salah satu alat perawatan pertanian juga. Jenis pupuk yang adapun berpariasi misalnya pupuk anorganik seperti KCl, NPK, Urea dan masih banyak lainnya. Namun sekarang ini yang banyak dikemabangkan adalah pupuk organik, karena dianggap mampu menyuburkan tanaman, tanpa merusak lingkungan dan tanah yang ditanami, sehingga bisa dimanfaatkan dalam waktu yang sangat lama, misalnya seperti kotoran ayam, kotoran sapi, atau limbah sayuran rumah tangga yang difermentasi dan lain sebagainya.
            Di Indonesia sendiri masyarakatnya kadang - kadang  memiliki kreatifitas sendiri untuk menyuburkan tanaman tanpa mereka sadari bahwa itu merupakan ilmu yang sangat bermanfaat untuk dunia pertanian. Salah satu contohnya adalah untuk masyarakat pedalam yang memasak masih menggunakan kayu bakar, biasanya mereka memanfaatkan abu dapurnya untuk pupuk tanaman yang mereka tanam dalam pot. Ada juga misalnya pemanfaatan sisa – sisa limah rumah tangga seperti air beras atau air bekas cucian ikan disirami ketanaman rumahan seperti cabai, sop dan sebagainya, dan ternyata hal tersebut bisa menyuburkan tanman. Namun hal – hal seperti ini jarang di perhatiakn olah pihak peneliti, sehingga tidak diketahui apa yang dikandung oleh limbah itu sendiri sehingga bisa menyuburkan tanaman.
            Salah satu kebiasaan masyarakat yang baru ditemukan didaerah Bangka ini adalah menyirami batang kelapa sawit dengan air bekas rendaman lateks, dan hal ini berguna untuk menyuburkan tanaman kelapa sawit, tanaman kelapa sawit yang awalnya lumayan kerdil atau bahkan mulai menguning Dan bila disirami dengan air bekas rendaman lateks ini bisa membuat tanaman pohon kelpa wasit tersebut menjadi hijau dan subur. Air bekas rendaman lateks ini juga bisa menyuburkan tanaman selain kelapa sawit saja seperti jeruk kunci, kedondong, dan lain sebagainnya, namun memang belum diketahui tanaman apa saja yang cocok untuk disirami dengan air bekas ini. Rumor ini tersebar dikalangan masyarakat sekitar, dan ada beberapa yang mencobanaya dan ternyata berhasil. Namun, sampai sekarang tidak ada yang meneliti atau menjelaskan mengapa hal itu bisa terjadi. Karena hal ini lah kenapa dalam karya tulis ini akan dibahas mengenai mengapa air bekas rendaman lateks bisa menyuburkan tanaman kelapa sawit.


PEMBAHASAN
A.    Apa Air Bekas Rendaman Lateks Itu?
Air bekas rendaman lateks merupakan air bekas atau sisa dari lateks yang mengeras. Lateks yang biasanya dikumpulkan dan ditampung disuatu wadah biasanya akan menghasilkan sisa berupa air yang berbau busuk, kadang juga berbuih, warnanya agak kekuning – kuningan dan bila tidak dibuang biasanya dalam beberapa hari akan menghasilkan jentik. Air bekas rendaman lateks ini ada atau muncul karena kadar air tinggi, dan proses pengeringannyapun kurang, bahkan cenderung masyarakat Bangka tidak mengeringkan lateks, melainkan hanya menggumpalkannya saja. Masyarakat bangka biasanya menggumpalkan lateks dengan menggunakan tawas.

B.     Kandungan  Air Bekas Rendaman Lateks
Lateks merupakan suatu sistem koloid dimana terdapat partikel karet yang dilapisi oleh protein dan fosfolipid yang terdispersi di dalam serum. Lateks terdiri dari 25 - 45% hidrokarbon karet selebihnya merupakan bahan-bahan bukan karet. Komposisi karet bervariasi tergantung dari jenis klon, umur tanaman, iklim, sistem deres, dan kondisi tanah (Southron, 1968). Lateks memiliki kandungan protein, karbohidrat dan ion – ion logam, yang mana bila lateks digumpalakan maka sebagian kandungan ini tersisa atau terbuang pada air yang keluar dari lateks. Sebagaimana yang kita ketahui bahwa tanaman sebenarnya juga membutuhkan beberapa komponen ini. Apalagi ion – ion logam ini tadi mengandung Ca dan Mg yang tercampur engan kandungan tawas yang digunakan untuk mengeraskan lateks ini tadi.
Tawas (Alum) adalah kelompok garam rangkap berhidrat berupa kristal dan bersifat isomorf. Kristal tawas ini cukup mudah larut dalam air, dan kelarutannya berbeda-beda tergantung pada jenis logam dan suhu. Alum merupakan salah satu senyawa kimia yang dibuat dari dari molekul air dan dua jenis garam, salah satunya biasanya Al2(SO4)3. Alum kalium, juga sering dikenal dengan alum, mempunyai rumus formula yaitu K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O.  Alum kalium merupakan jenis alum yang paling penting. Alum kalium merupakan senyawa

yang tidak berwarna dan mempunyai bentuk kristal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat dan aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan didinginkan. Larutan alum kalium tersebut bersifat asam. Alum kalium sangat larut dalam air panas. Ketika kristalin alum kalium dipanaskan terjadi pemisahan secara kimia, dan sebagian garam yang terdehidrasi terlarut dalam air (Zahara, 2005).
Tawas ini biasanya berfungsi sebagai flocullator yaitu mengumpulkan kotoran – kotoran pada air sehingga bila kandungan tawas ini dicampur dengan kandungan yang ada di bahan lateks akan menjdi kombinasi yang pas untuk penyuburan tanaman.

C.    Manfaat Air Bekas Rendaman Lateks Bagi Tumbuhan
Sebagaimana yang telah di jelaskan sebelummya bahwa iar bekas rendaman lateks ini bisa menyuburkan tanaman. Hal ini bisa terjadi karena adanya kandungan protein, karbohidrat dan ion – ion logam berupa Ca dan Mg dalam lateks, yang mana fungsinya dalam tanaman adalah sebagai unsur hara urnuk tumbuh kembang tanaman, seperti megatur kadar PH dan menyuburkan tanaman. Bila kandungan ini bekerja sama dengan tawas, yang mengandung garam tadi. maka selain bisa menyuburkan tanaman juga bisa mengobati tanaman. Namun, masih belum diketahui apa saja dampak dari pemanfaatan air bekas ini, karena belum adanya penelitian terkait, dan juga belum diketahui apakah air bekas ini bisa digunakan pada semua tanamaan, tetapi yang jelas air bekas rendaman lateks ini berguna bagi tanaman kelapa sawit.

D.    Penyiraman Air Bekas Rendaman Lateks Pada Tanaman Kelapa Sawit Sebagai Pengganti Pupuk
Bagi pemilik perkebunan kelapa sawit, prosedur pemupukan kelapa sawit mungkin sudah tidak asing lagi, tetapi terkadang meskipun sudah berkebun kelapa sawit dan sudah melakukan pemupukan kelapa sawit masih saja ada kelapa sawit yang tidak tumbuh dengan baik. Atau sering kali mengalami gagal panen dikarenakan buah kelapa sawit yang kurang maksimal, yang disebabakan pohonnya yang kerdil dan tumbuh tidak sempurna.
Pemupukan kelapa sawit merupakan salah satu proses yang sangat penting untuk mempertahankan produksi buah kelapa sawit. Pohon kelapa sawit berbuah sekitar dua minggu sekali, atau dengan kata lain pemilik kebun kelapa sawit akan panen kelapa sawit setiap dua minggu sekali. Namun, setiap periode dua minggu tersebut bukan tidak mungkin buah yang dihasilkan tidak sama. Terkadang dua minggu pertama panen besar, tetapi selang dua minggu ke empat agak menurun.

Tidak semua petani kelapa sawit berhasil mempertahankan prosedur pemupukan kelapa sawit setiap saat, karena ada kalanya proses pemupukan kelapa sawit tidak berjalan dengan baik. Bahkan ada juga yang sering kali gagal melakukan pemupukan kelapa sawit, sampai harus mengganti pupuk. Kegagalan tersebut dikarenakan minimnya atau ketidaktahuan dalam memberikan dosis pada saat proses pemupukan kelapa sawit berlangsung. Selain salah dalam memeberika dosis bisa saja tanah sekitar sudah mulai jenuh atau memburuk karena terus diberikan pupuk anorganik, sebab pupuk bisa menghilangkan kesuburan tanah.

Tidak hanya prosedur yang salah kadang kala petani yang ada di Bangka ini merupakan petani kecil yang tidak memiliki modal, mereka terkadang tidak mampu untuk membeli pupuk, karena itu kadang kala pemukukan tidak dilakukan dan menyebabkan tanaman tumbuh tidak baik. Bila alternatif pupuk ini bisa diganti dengan air bekas rendaman lateks ini, maka kesulitan petani dalam meyediakan pupuk untuk tanaman kelapa sawit bisa berkurang. Karena umumnya masyarakat Bangka ini merupakan Petani karet, jadi untuk mendaatkan air bekas rendaman lateks ini tadi sangat mudah dan bahkan tidak perlu mengeluarkan uanng, jadi para petani bisa berhemat.
Sejauh yang pernah dilakukan warga waktu untuk penyiraman air bekas rendaman lateks ini adalah setiap hari, akan lebih akan lebih baikbila dilakukan di pagi hari karena tanaman belum melakukan aktifitasnya  yaitu berfotosintesis, dan keadaan belum terlalu panas. Penyiramannya dilakukan pada pangkal batang bawahnya yang ada dipermukaan tanah, namun ada juga yang menyiraminaya langsung dari pucuk tanaman kelapa sawitnya bila tanamannya masih kecil. Biasanya efek dari penyiraman ini akan terlihat sekitar 2 – 4 minggu penyiraman.

E.       Dampak dan Kendala Pemupukan Menggunakan Air Bekas Rendaman Lateks
Dampaknya sendiri belum diketahui untuk penggunaan air bekas rendaman lateks ini karena belum adanyan penelitian yang dilakukan. Namun, kendala yang dihadapi yaitu terbatasnya waktu bagi petani karena menyita waktu pagi mereka untuk melakukan kegiatan lain, seperti ngaret, dan sebagainnya, selain itu air bekas rendaman karet yang dibutuhkan juga banyak, sedangkan ketersediannya sedikit. Kendala lain yaitu jarak tempuh untuk membawa air bekasnya, bila kebun karet dan kebuh kelapa sawitnya itu berjauhan.


KESIMPULAN
Simpulan yang dapat diambil dari penjabaran karya tulis ini adalah bahwa air bekas rendaman kelapa sawit berasal dari hasil penggumpalan lateks yang tidak menggumpal. Airnya ini berwarna kekuning – kuninagan dan berbau busuk. Karet itu sendiri mengandung protein, karbohidrat dan ion – ion logam berupa Ca dan Mg yang berfungsi utuk bahan unsur hara tanaman sebagai bahan tumbuh kembang tanaman.
Tawas yang merupakan polar dari dua jenis garam, yang mana bisa memisahkan kotoran dari air, jadi bila kedua komponen ini digabunkan tidak hanya bisa menyuburkan tanaman, namun juga bisa menjadi pengusir bagi serangga. Dampak yang ditimbulakan dari teknologi ini belum diketahui, karena belum ada penelitian terkait.
     Prosedur penyiraman atau pemupukannya harus dilakukan setiap ahri secara rutin dan lebih baik dilakukan pada pagi hari dan ini lah yang menjadi kendala petani karena akan menyita  waktu mereka, selain itu ketersedian bekas aornya juga kurang, jarak tempuhnya juga menjadi kendala bila kebun karet dan kebun kelapa sawitnya berjauhan.
DAFTAR PUSTAKA

Abednego, J.G. 1981. Pengetahuan Lateks. Departemen Perdagangan dan  Koperasi.
Austin. T. George. 1985. Shreve’s Chemical Proces Industries, Mc  Graw –Hill      Book Company
Dalimunte, V. H. (2008). Penentuan Kandungan Padatan Total (% TSC) Lateks    Pekat dan Pengaruhnya terhadap Kekuatan Tarik Benang, Laporan       Penelitian Universitas Sumatera Utara, Medan.
Rozir, 2002. Cara Uji dan Penetapan Kadar Zat Menguap dan PRI. Medan: Balai Penelitian dan Pengembangan Industri
Shoutron. 1986. Karet. Jakarta: Erlangga
Solichin, M., dan A. Anwar. (2003) Pengaruh Penggumpalan Lateks, Perendaman dan Penyemprotan Bokar dengan Asap Cair terhadap Bau Bokar, Sifat Teknis dan Sifat Fisik Vulkanisat, Jurnal Penelitian Karet Vol 21, Sembawa
Solichin, M., dan A. Anwar. 2006. Deorub K Pembeku Lateks dan Pencegah Timbulnya Bau Busuk Karet. Palembang: Erlangga
Tim Penulis PS., 2008. Panduan Lengkap Karet. Jakarta: Penebar    Swadaya
Wahyudi, Freddy. (2008) Pengaruh Kombinasi Komposisi Bahan Olah Karet        terhadap Tingkat Konsentrasi Plastisitas Indeks (PRI) Karet Remah SIR      20. Medan: Laporan Penelitian Universitas Sumatra Utara
Zahara.  2005. Kandunagn Bahan Kimia. Jakarta: Erlangga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tumis Labu siam

SELASA, 03 OKTOBER 2017 1. siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. (bahan: labu siam, cabai, minyak goreng, garam, sasa (penyedap rasa),...