Senin, 23 Mei 2016

cerpen harapan terakhir

HARAPAN TERAKHIR
                Namaku adalah Muhammad Joinger, panggil saja aku Join, nama ini ayahku berikan karena aku keturunan blasteran antara ibu yang keturunan melayu (muslim) dan ayahku Jerman, ibuku meninggal saat melahirkanku, karena terlalu banyak megeluarkan darah. Tapi walaupun begitu ayah tidak pernah menyalahkan ku akan kematian ibu, walau sebenarnya ia sangat mencintai ibu, buktinya dia tidak menikah lagi sampai aku SMP. Tapi, apa setelah aku lulus SMP ayah ku menikah lagi, tidak! Ayah ku tetap setia pada ibu sampai akhir hayatnya. Lebih tepatnya ayahku meninggal saat aku SMP. Dari sinilah awal kisahku muncul.
                Tahukah kalian apa penyebab kematian ayahku? Tentu kalian tidak tahu, tapi aku akan menceritakannya. Ayahku adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan minyak Swasta terbesar di kota kami, tapi tragisnya ayahku meninggal karena serangan jantung. Lebih tepatnya karena menaggung beban perasaan yang dia simpan.
                Pagi itu, aku dan ayah sedang bermain sepak bola di taman belakang apartemen kami, ya! Seperti biasa aku memang selalu kalah dari ayahku yang hebat ini. Selepas bermain dengan puasnya dan jalan-jalan seharian karena hari ini ayah libur, saat sampai dirumah seperti biasa kami akan berbagi tugas dalam mengurus keperluan rumah, ayah memasak dan aku akan mencuci dan menyapu rumah. Kebetulan kebutuhan dapur kami sudah habis dan ayah terpaksa harus pergi kepasar sebentar untuk membelinya. Tapi sebelum pergi aku minta ayah untuk membelikanku sepatu bola. Aku katakan pada ayah bahwa aku selalu kalah dari ayah saat bermain sepak bola karena tidak mempunyai sepatu bola sedangkan ayah punya. Tapi, dengan tidak ragunya dia menjawab “ya” untuk membelikanku sepatu bola, bahkan katanya dia akan membelikanku sepatu itu langsung sepulang dari pasar. Tak aku pungkiri, aku sangat bahagia, kemudian pergi lah ayah ke pasar. Saat kembali dari pasar, aku sudah menanti-nanti ayah, sesampainya ia dirumah aku langsung bertanya “mana sepatu bolaku yah!” dia menjawab sambil menegadah “masyaallah ayah lupa”. Kamu tunggu dulu ayah akan membelikan sepatu bolanya dulu”. Tapi saat hendak pergi ayah ditelepon oleh atasannya, untuk pergi kekantor, tentu saja ayah harus mengutamakan pekerjaannya dulu, sku juga mengerti dan tidak marah dengan ayah karena dia tidak bisa membelikanku sepatu bola saat itu, kerjaannya kan lebih penting dari mana lagi kami bisa mendapatkan uang kalau ayah tidak berkerja. Ayahpun langsung pergi, aku menunggu ayah sampai larut malam belum juga pulang, aku makan seadanya dirumah, karena tidak ada yang memasak, biasanya ayah yamg selalu memasak, karena sangkin ngantuknya aku pun tertidur diruang tamu menunggu ayah. Sampai pagipun ddan aku pergi sekolah dan sampai pulang sekolah ayah belum juga pulang. Aku sangat khawatir dengan ayah, saat sedang membaca koran dan menunggu ayah, ada beberapa orang laki-laki tegap datang kerumah, ternyata mereka polisi, mereka berkata hanya menyampaikan pesan padaku bahwa ayahku ada di kantor polisi dan sedang menunggu ku. Aku sangat terkejut mendengar hal itu, dan langsung berlari kekantor polisi dengan tergesa-gesa, pintu rumah tidak sempat kau tutup, bahkan sandalpu tidak kau pakai. Demi menemui ayah ku yang berada dikantor polisi.
                Sampai dikantor polisi aku langsung bertemu dengan ayah, aku hanya diam tertunduk dengan keadaan ayah tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku hanya meneteskan air mata. Ayah ku langsung menghapus air mataku dengan tangannya, tapi aku terus menagis, ayah bilang padaku bahwa dia tidak bersalah. Aku percaya pada ayahku bahwa ayahku tidak bersalah dan polisi itu salah telah menuduh ayahku membunuh seseorang. Bagaimana aku bisa percaya sedangkan ayah sangat baik, dan kata polisipun orang itu mati ketika sore menjelang malam, bagaimana aku mau percaya, sedangkan ayah masih dirumah waktu itu dan baru keluar rumah malamnya. “dasar polisi pemfitnah” itu yang ada dalam pikiranku waktu itu. Ayah terus bilang bahwa dia tidak bersalah padaku, aku percaya! Ayah juga biang padaku harus pintar-pintar mengurus diri sendiri selama dia dipenjara. Tapi, aku juga tidak mau kalah perduli dengan ayah, aku bertekad akan mengeluarkan ayah dari penjara, aku berjanji, aku minta ayah agar mau menuggu ku, ayahn hanya mengangguk, aku terus memeluk ayahku dalam keadaan hening itu, hingga jam besuk habis dan ayahku terpaksa harus masuk lagi kejeruji bersi yang dingin itu. Aku sangat kasihan dengan ayahku, apa dosa yang telah ia perbuat hingga dia bernasib seperti ini.
                Aku binggung waktu itu harus menolong ayah degan cara apa, jadi aku pergi kerumah atasan ayahku yang menyuruhnya kekantor, sehingga ayahku ditangkap. Aku memohon kepada atsan ayah untuk mengeluarkan ayahku, tapi dia sama sekali tidak perduli, dia malah megusirku dengan para bodyguardnya. Aku tetap berusaha memohon dan menunggu didepan rumahnya, kemudian beberapa saat ada yang membuka pintu gerbang rumahnya, aku pikir itu atasan ayah tapi ternyata itu para pengawalnya yang siap mengusirku, tapi aku bersikeras tetap mau menunggu dan meronta, tapi para abang-abang yang bertubuh kekar itu membawaku ke jalan gang, dan menghajarku habis-habisan sampai wajahku luka parah dan tidak kelihatan lagi, aku hany ingat mereka terus memukulku, dan setelah itu aku tidak ingat lagi karena penglihatanku langsung kelam, dan setelah aku sadar aku sudah berada didalam rumah, para tetangga yang berda disekitar ruamah yang menemukanku, membawa aku pulang dan merawat lukaku, aku benar-benar berterimakasih kepada mereka, karena ternyata masih ada orang yang mau perduli denganku. Seminggu setelah itu aku masu sekolah lagi, teman-teman sekolahanku meatapku dengan hina saat aku masuk sekolah lagi, tapi aku tidak perduli, karena aku harus belajar yang rajin supaya aku bisa mengeluarkan ayahku dari penjara itu pikirku saat itu. Toh, mereka juga tidak tahu bagaimana kenyataan dan penderitaan yang sebenarnya aku alami, mereka hanya bisa merengek pada orangtua mereka, tidak seperti aku yang dari kecil hanya dijaga ayah. Karena sudah satu minggu aku tidak menengok ayah dipenjara, rencananya aku akan menjenguk ayah saat aku pulang sekolah sesudah les tambahan gratis yang diadakan sekolahanku, tapi saat kembali kerumah aku mendapati mang Ejo, tetangga kami sedang berdiri murung didepan rumah, aku bertanya ada apa, tapi dia bilang “yang tabah ya Jo” aku binggung kenapa dia berkata seperti itu, aku bertanya lagi padanya ada apa, kemudian dia baru menjawab bahwa ayahku sudah meninggal karena serangan jantung mendadak. Polisi mengantarkan jenazah ayahku kerumah, tapi aku hanya bisa menagis, aku berbisik sambil menagis disamping jenazah ayahky “kenapa ayah pergi meninggalkan Join, sekarang siapa yang akan menemani Join main bola yah, bagaiman Join melanjutkan hidup yah. Join kan sudah janji akan mengeluarkan ayah dari penjara dengan hormat, tapi kenapa ayah tidak menunggu Join yah” mataku melotot sambil megeluarkan air mata yang tak henti-henti, mataku merah menyala dan aku terus-terusan pingsan, tetangga-tetangga juga khawatir denga keadaanku. Karena setelah ayah dimakamkan aku terus mengis, dan megurung diri, tetanggaku yang tidak tega melihat keadaanku, terus mencoba untuk menghiburku dan membujukku agar mau makan, karena sudah empat hari aku tidak makan, aku juga tidak tahu bagaiman aku bisa bertahan waktu itu. Tapi aku tetap tak memperdulikan tubuhku dan juga para tetangga yang berkunjung, bagiku mereka hanya nyamuk yang sedang berdengung, aku tidak tahu apa yang mereka katakan, hingga pada malam kelima aku tidak makan, aku merasa semuanya mulai gelap dan berputar-putar dan setelah itu aku tidak sadar lagi apa yang terjadi denga diriku. Setelah aku sadar, aku mendapati diriku sedang diinfus dan banyak orang sedang bergerumun disekelilingku, dan ada dokter yang sedang memeriksaku, dia bertanya apa aku  merasa lebih baik, aku hanya mengangguk dan tidak menjawab, karena aku terlalu lemas untuk mejawab.
                Setelah semua orang pulang hanya ada aku dan pak Ejo, yang menemani aku, dia memberikan aku bubur nasi untuk aku makan, kali ini aku mau makan, karena aku baru merasa lapar, sambil makan pak Ejo menasehati aku. Katanya walaupun kau hidup sebatang kara aku harus tetap kuat dan mempunyai mimpi, agar perjuangan ayahku selama ini untuk membesarkanku tidak sia-sia. Setelah makan bubur dan mendengar cerita pak Ejo, dia memang benar, ayah sudah susah payah membesarkanku, kenapa aku tidak memperjuangkan apa yang sudah diperjuangkan ayahku, aku malah bersikap kekanak-kanakan, ya! Walaupun sebenarnya aku memang cengeng yang menurutku sendiri mirip anak perempuan, tapi aku tidak perduli, karena hanya ayah yang aku miliki selama ini, akupun juga tidak tahu dimana sanak saudaraku. Karena terlintas dipikiranku tentang sanak saudara, aku bertanya pada pak Ejo dimana saudara dan kerabat ayah atau ibu ku, karena kau pikir pak Ejo pasti tahu diman mereka, kan pak Ejo sudah kenal dengan orangtuaku sebelum aku lahir. Beliaupun menceritakan semuanya dan ternyata ayah dan ibu ku itu kawin lari karena orang tua tidak setuku, sebab mereka berbeda agama, dan pak Ejo juga tidak tahu siapa sanak saudara ku sebab sejak mereka pindah kesini, tidak ada yang menemui ayah dan ibuku. Oh iya! Kau lupa cerita tentang status pak Ejo, dia ini adalah bujang lapuk, yang bisa dibilang sangat lapuk bahkan sagkin lapuknya sampai tumbuhnya berjamur kekulat-kulatan. He......... Itu hanya istilah, bagaiman tidak dia kan sudah berumurrrrrrrrrrrrrr..........................59 tahun,tanpa punya anak, bagaiman mau punya anak, menikahpun tidak pernah, memang tragis, sama seperti nasibku. Hari demi haripun berlalu, untung ada pak Ejo yang merawatku menggantikan ayah, dia tidak keberatan karena dia juga tidak punya anak, aku juga senang bisa dirawat pak Ejo, tiap hari dia terus menasehati dan mengajarkanku yang baik-baik bahkan mendekatkan diri ke Ynag Maha Kuasa, dia juga menyengkolahkanku, sekarang rasanya aku bisa bangkit lagi, karena ada pak Ejo yang harus aku buat bangga, eh! Aku lupa bilang lagi, sebenarnya aku adalah siswa yang lumayan dalam bidang akademik, aku sering mendapat juara dalam olimpiade SAINS, dan sering mendapat peringkat yang berkecimpung dalan tiga besar teru tiap semester, tapi karena masalah yang aku hadapi kahir- akhir ini, peringkatku bagai terpental, tertendang jauh kelangit, ya, menurut ku begitu, kalian tahu peringkatku jadi keberapa, aku jadi urutang yang ke 16, jauh memang, tapi sekarang berbeda karena ini kesempatan terakhir untuk membanggakan orang yang aku syangi saat ini, yaitu pak Ejo yang merawat ku aku harus peringkat atas lagi, dan ternyata aku berhasil aku mendapat nilai terbaik disekolahku waktu ujian, pak Ejo sangat senang, karena semangat belajarku yang kuat, pak Ejo bertekad untuk menyengkolahkanku di sekolah elite yang bertarap intenasional. Awalnya aku merasa tidak enak karena pasti sangat sulit untuk mendapatka biayanya, tapi sebuah keajaiban karena prestasiku selama di SMP, ternyata aku diberi beasiswa, aku sangat senang sekali, karena pak Ejo tidak akan susah-susah memikirkan biyanya. Sebenarnya sesekali aku sering memikirkan kekesalan pada para orangtua para murid yang kaya-kaya itu, karena aku masih mersa marah akan apa yang terjadi pada ayahku yang dilakukan oleh para bos-bos kaya seperti aorang tua anak-anak kaya itu, tapi bagaimanpun aku harus melupakan hal itu dan menjadi pengacara ternama untuk membersihkan nama ayahku, karena kebenaran pasti akan terungkap ya! itu lah mimpku saat ini. Aku juga tidak memikirkan banyak hal tentang apapun sekarang. Yang aku pikirkan sekarang bagaiman membahagiakan pak Ejo yang sudah sangat sayang dan baik padaku.
                Beberapa bulan sekolah disana aku merasa kerasan, karena semuanya anak-anak orang kaya, tapi apa boleh buat. Walaupun tidak seorangpun ytang mau berteman dengan aku, tapi aku harus berjuang karena aku tidak mau mengubur impian ku dan juga harapan pak Ejo. Seperti bisa pulang sekolah aku harus bekerja paruh waktu membantu pak Ejo, kasihan dia sudah tua dan mulai penyakitan, apalagi sekrang hanya dia yang aku miliki. Tapi.......kejadian lama terulang lagi, saat aku pulang kerumah aku mendapati pak Ejo sudah tek bernyawa lagi. Sebelum aku masuk kerumah, ada beberapa preman yang keluar dari rumah kami. Aku tahu itu pasti ulah rentenir yang menagih hutang. Aku tidak habis pikir kenappa mereka tega melakukan itu pada pak Ejo yang begitu baik, padahal pak Ejo tidak pernah telat bayar hutang tiap bulannya, lagiuan mereka kan bidsa menyita barang-barang kami, tidak perlu membunuh pak Ejo. Aku meras benar-benar hancur, aku tidak bisa berkata apa-ap lagi, aku mengis sejadi-jadinya, sama seperti saat aku kehilangan orangtuaku. Ada tetangga yang memberitahuku bahwa pak Ejo bukan dibunuh karena hutang, tapii karena tidak mau menjual tanahnya, tanah itu adalah tanah peninggalan kedua orangtua pak Ejo. Tambah lagi aku semakin marah dengan para orang kaya itu, mereka bisa seenaknya berbuat begitu, apa uang bisa membeli semuanya, itulah yang aku pikirkan saat itu. Dengan tekad yang bulat aku berhasil menyelesaikan SMA ku degan nilai terbaik dan berhasil mendapatkan beasiswa keluar Negeri untuk menjadi pengacara. Aku senang karena tinggal beberapa tahun lagi cita-citaku tercapaim untuk menjadi seorang pengacara.
                Akhirnya setelah perjuangan yang begitu berat, dengan selalu diremehkan orang dan setiap hari bekerja diperintahi orang lain, aku bisa mencapai cita-citaku, bahkan sekarang aku menjadi pengacara yang sangat terkenal dinegaraa tempat kuliahku aku dikenal sebagai MJ si dewa, baiman tidak setiap kasus yang aku tangani selau menang dan aku tidak pernah sekalipun gagal atu kalaah. Aku juga menjadi orang yang kaya, dengan uang hasil pengacaraku aku juga membangun beberapa usaha yang maju dengan sangat pesat, munkin ini adalah hasil dari perjuangaan ku selama ini. Tapi tentu saja aku tidak lupa tujuan awalku untuk membalaskan dendam orangtuaku. Ya! Begitulah, niat yang awalnya hanya untuk mempebaiki nama ayahku saja, kini berubah menjadi dendam yang selau menyiksa hatiku. Bagaimana tidak, aku tidak akan pernah lupa akn perbuatan orang-orang krji itu kepada orangtuaku dan terutama pada pak Ejo, satu-satunya orang yang mau merawatku, setelah kedua orangtuaku meninggal. Semuanya sudah aku urus, parport, barang-barang, tempat yang akan aku diami setelah aku kembali ketanah airku, bahkan tempat kerja sudah aku siapkan, maklum karena karier kerjaku yang bagus, jadi tidak susah untukku mencari pekerjaan diperusahaan mana yang aku mau. Dan tentunya aku sudah menyiapkan semua keperluanku untuk pembalaskan dendamku, bahkan tempat aku kerja disana nanti adalah tempat dimanaa anak dari orang yang membunuh ayahku itu bekerja juga. Aku bahkan menjadi atasannya, ya aku rasa, semua yang aku butuhkkan sudah siap, tinggal menuggu keberangkatanku yang beberapa hari lagi. Rasa didalam hatiku begitu bergejolak dan ingin terburu-buru membalaskan dendam orangtuaku, dari sinilah rasanya bercak hitam dihatiku itu mulai hidup, rasanya ada yang mendorong agar aku segera melaksanakan balas dendamku.
                Seperti yang aku inginkan, setelah sampai di Indonesia semuanya berjalaan lancar, aku menjadi atasan dari anak orang yang paling aku benci, yaitu pemmbunuh ayahku. Dia yang membunuh ayahku. Bagaiman tidak dia yang menyebabkan ayahku kena serangan jantung dan akhirnya meninggal. Aku mulai menjalankan rencanaku secara perlahan-lahan, namun pasti. Mulai dari aku membuat sulit anak orang yang membunuh ayahku. Oh iya! Namanya adalah Nandito Notonegoro, baguskan namanya, tapi tidak sebagus orangtua yang memeberikan nama itu. Aku mulai menikmati balas dendamku, dan aku juga mulai mengorek kembali kasus lama ayahku, tapi waktuku tidak banyak, karena masa penjaranya tinggal beberapa bulan lagi, dan akn ditutup untuk selama-lamanya. Dengan berbagai upaya aku mengoreknya lebih dalam. Tapi entah kenapa tidak seperti kasus-kasus yang selam ini aku selidiki dan aku menangkan. Entah kenapa aku merasa kasusu ini begitu sulit dan sangat susah. Ketakutan terbesarku adalah aku gagal, karena selain ini sebagi upay balas dendam orangtuaku, ini juga penentu karierku. Kalau sampai aku gagal, reputasiku akan hancur. Entah kenapa aku berubah menjadim sombong dan suka menindas dan meremehkan bawahanku, aku mjulai menikatinya. Aku juga sangat mudah emosi.
                Jangan salah walaupun aku hidup seperti ini aku juga memiliki kisah cinta. 7 bulan aku berada di Indonesia, aku dikunjungi Nandin, dia adalah tunaganku yang selama ini selau mendukungku, apapun yang aku lakukan dia selalu membantu dan mensuportku, mungkin itu sebabya aku menyukainya, apalagi dia juga orang Indonesia yang pindah kenegeri orang, dengan bantuan orangtuanyalah aku bisa sukses seperti sekarang. Tapi dia tidak pernah mengungkit hal itu, dia bilang itu berkat kemampuan diriku sendiri. Orangtuanya juga sangat percaya padaku. Makanya satu tahun yang lalu kami bertunangan. Aku terkejut karena dia datang tidak biilang terlebihdulu, saat aku pulang dari kantoe sekitar jam 9 malam setelah rapat, aku sudah mendapati dia dirumahku sudah menungguku untuk makan malam. Senang bercampur heran itu yang aku rasakan. “kamu sudah pulang, ato makan dulu” itu kalimat yang langsung ia tuturkan padaku, dia juga langsung salim denganku. Malam itu sambil makan kami mengiobrol. “kamu kenapa kemari tidak bilang dulu, aku kan bisa jemput”
“aku tidak amu merepotkan, kamukan juga pasti sedang sibuk mengurus kasus-kasus yang kamu tangani”
“terus kenapa kamu kemari dan tidak menungguku di Amerika, sebentar lagi juga aku pulang”
“aku kangen, mana kamu juga jarang menelpon, jadi aku pikir lebih baik aku bersama kamu disini”
Satu minggu sudah lewat dia tinggal bersamaku disini. Dia mengurus segala keperluanku layaknya seorang istri. Tapi jagan salah sangka aku tidak berbuat apaa-apaa denngannya, kami hanya tinggal satu atap, tapi tidak satu kamar. Sembari itu aku mulai tergesa-gesa dengan kasus ayahku, karena sulit umtuk membagkitkan kembaliu kasus itu, mana waktunya hampir habis, mana Nandin terus mendesakku untuk menikahinya, minimalk pulanglah ke Amerika, karena dia khawatir kalau terus di Indonesia aku akan terus sibuk dan tidak menhindahkan janji kami yang dulu. Aku berfikir Nandin sangat egois, dia tidak memikirkan keinginanku, dia kan tahu hal ini sudah aku nantikan bertahun-tahun, juga dulu dia tidak membentah dan selalu mendukung apa yang aku lakukan, kenapa dia jadi seperti ini.
                Di suatu siang dia menelfonku untuk pulang makaan bersama, dia memintaku untuk kembali bersama dengannya ke Amerika dari pada disini tidak mendapatkan hasil apa-apa. Aku sangat kesal mendengar hal itu” kalau mau pulang saja sana, aku tidak pernah memntamu untuk datang kesini” aku langsung kekantor lagi, apa sih! yang difikirkan Nandin, menelfonku hanya untuk masalah ini. Setelah pulang kerja dan sampai dirumah, ternyata dia mengerti dengan kemarahanku jadi dia coba menghiburku dan tidak menanyakan masalah itu lagi. Setelah makan dan nonton-nonton santai ternyata dia mengajukan pertanyaan itu lagi, kapan aku menikahi dia?
Aku mualai emosi lagi dan langsung membentak dia, aku bahkan menamparnya dan memukulinya, samapi dia bersimpah darah, yang aku rasakan saat iru adalah kemarahanku pada orang-orang yang aku dendami. Saat aku tersadar dari amarahku ternyata yang aku pukuli adalah Nandin bukan merka, aku langsung memeluk Nandin erat dan mengobati lukanya, tapi dia sama sekali tidak benci bahakan marah deganku, dia malah menghiburku agar tetap tenang menhadapi emosiku. Semejak itu dia tidak pernah mengungkit lagi masalah kembali ke Amerika atau menikah. Dia hanya membantuku menjalankan kasus-kasusku. Akhirnya saat yang aku tunggu-tunggu datang juga yaitu hari sidang kasus ayahku, aku sudah memepersiapkan semuanya dengan matang, satu minggu sidang ditunda, sidang berlangsung selama 2 minggu. Saat sidang kedua sudah berlangsung, aku kalah karena kurangnya bukti dan kasusu ini sudah terlalu lama dan waktunyapun sudah habis tiga hari yang lalu. Aku benci, kesal dan marah pada semua orang, aku hamburkan semua peralatanku dikantor dan dirumah, susah payah aku mencapai semua ini dan kau kalaah saat membela yang benar, membela ayahku, kenap ini terjadi, ini sangat tidak adil. Nandin mencoba menhiburku, tapi aku malah marah padanya dan memeukulnya lagi” ini semua gara-gara kamu, aku sampai gagal karena kamu, kamu terus menggangguku dengan pernikahan, aku muak!, kamu lihat sekarang tidak hanya ayahku yang tidak bisa aku bela tapi juga karierku yang hancur, semua ini gara-gara kamu” dia meminta maaf padaku dibawah kaiku, tapi aku malah menedangnya sampai ia terpental kedinding
“pergi kau aku tidak mau melihatmu lagi”
“bagaimana denga pernikahan kita” sambil menagis dan kesakitan dia mengatakan itu padaku
“aku tidak perduli, sekaraang aku tidak mau lagi dengan wanita pembawa sial denganmu”
“kenapa kamu tega, kamu kan sudah berjanji untuk menikahiku”
“menikah! Aku tidak mau lagi menikah dengan wanita pembawa sial sepertimu, kalau mau menikah, menikah saja denga orang lain, kamukan juga tidak hamil utnuk apa aku menikahimu”
“apa kamu bilang”
“pergi sekarang!”
Sambil menagis dia pergi dan mengatakan kata terakhir utnukku “aku akan pergi kalau memang membuatmu senang, supaya aku tidak menjadi bebanmu lagi” dia pun pergi, tapi aku tidak sedikitpun merasa bersalah, aku bahkan tidak melihat kearah dia sama sekali. Tidak lama setelah itu, bruk............., ada sebuah kecelakaan didepan kantorku, dan anak buahku langung mendatangi aku dia bilang denga napas terpengoh-pengih karena berlari baha Nandin di tabrak mobil, dia yang kecelakaan didepan kantorku itu. Aku baru tersadar bahwa aku sudah mengusir Nandin. Aku langung berlari dan mengampirinya, darah menalir disepanjang jalan, dan akhirnya diapun meninggal, sebelum meninggal dia sempat bilang padaku bahwa dia mencintaiku selamamya  dan dia mendoakanku agar bahagia dengan pilihanku dan mengharapkan agar aku jangan pernah dendam lagi dengan orang lain, denga senyum dia pergi meninggalkanku untuk selamanya. Aku berteriak sejadi-jadinya, hingga rasanyapun suaraku sudah habis. Apa yang aku lakukan aku sudah membuat orang yang aku cintai meniggal dan terskiti. Karena dendamku aku kehialangan orang yang aku sayangi lagi, buaknnya mendapatka kebahagiaan, aku malah mendapatkan penderitaan lagi gara-gara ulahku sendiri. Tentunya kejadian ini segara diketahui keluarga Nandin, saat mereka kembali ke Indonesia dan mendapati satu-satunya anak perempuan mereka meninggal, mereka tidak henti-hentinya menyalahkan aku, ditambah lagi bukti pukul yang aku lakukan pada Nandin, kekecewaan dan kemarahan mereka tidak terbendung lagi, mereke memukul ku berkali-kali hingga aku babak belur dan tidak sadarkan diri, tapi aku tidak perduli, mau mereka bunuhpun aku, aku tidak perduli lagi dengan hidupku, aku sudah menhancurkan hidupku sendiri. Keluarga Nandin melaporkanku ke pada polisi atas tindakan penganiayaan da kau dihukum selama 5 tahun. Aku jadi bankrut, karena tidak ada yang mengurusi perusahaanku, keluarga Nandinpun tidak mau berhunbungan dengaku lagi, aku maklumi itu, sebenarnya aku juga sudah berkali-kali mencoba bunuh diri, tapi selalu gagal.
                Liam tahun sudah aku dipenjara dan saatnya aku keluar, tapi aku tidak punya arah dan tujuan lagi, bahkan aku tidak tahu untuk apa aku hidup, aku mengunjungi makam Nandin dan selam berhari-hari aku disana, beberapa orang memberiku makanan, tapi saat petugas makam pusat datang mereka mengusirku. Aku bersikeras seperti orang gila tidak mau maninggalkan makam Nandin. Tapi apa boleh buat nasi sudah jadi bubur, bukan hanya menjadi bubur, tapi sudah jadi abu yang berterbangan, seperti itulah kejadian hidupku, Nandin pun tidak mungkin bangkit  lagi dari kuburnya. Aku berjalan tak tahu arah, yang ada dalam pikiranku hanya penyesalanku kepada Nandin, aku sempoyongan ditengah jalan dan kemudian tidak sadarkan diri. Setelah aku bagun, ternyata aku pingsan didepan Masjid, aku terbangun saat mendenagarkan azan berkumandang. Aku duduk dan merenung seperti orang yang kehilangan pikiran lagi. Saat aku sedang duduk datang seorang lelaki tua mengampiriku “sudah shalat jang” itu yang dia katakan padaku “belum pak” balasku
“ayo kita shalat bersama-sama”
Aku baru sadar bahwa selama ini aku sudah lama tidak menghadap kebarat dan melupakan-Nya, bahkan aku tidak tahu lagi cara shalat “saya tidak bisa lagi shalat pak”
“tidak apa biar nanti saya ajarkan, biar nanti bujang jadi makmunya, saya jadi imamnya, nanti ikuti saya saja”
Akupun melaksanakan shalat, aku berdoa pada sang Kuasa agar diberi hidayah untuk kesempatan hidup yang masih Ia berikan ini. Setelah sahat hatiku mersa tenang, damai, dan tebtram, beban yang selau ada dipundakku rasanya mulai ringan. Aku sadar karena jauh dari Allah lah yang membuat hidupku jadi seperti ini. Aku menceritakan semua kejadian yang terjadi dalam hidupku kepada bapak yang mengajak aku shalat tadi, mulai dari aku kecil sampai aku luntak-lantung seperti sekarang. Bapak itu ternyata adalah seorang ustad sekaligus sesepuh kampung itu. Dia menasehatiku dengan berbagai ayat dari Al-Quran kepada ku tentang kejadian yang meninpaku kini sedikit demi sedikit racun yang ada dihatiku mulai sirna. Dia mengajak aku tinggal bersama dengaannya, tapi aku menolak, aku mau mengabdikan diriku kepada Allah SWT, karena selam ini aku begitu jauh dari-Nya, aku tinggal di masjid dan menjaga masji, aku mau memulai hidupku dari awal lagi, tapi tidak untuk mencari kekayaan namun untuk mencari ketentraman. Dan mengenai kisah cintaku, walaupun aku sudah bertaubat dan mulai mendekatkan diri pada Yang Kuasa dan bertekad untuk memulai kembali, aku tetap tidak bisa melupakan Nandin, bagiku dialah satu-satunya orang yang aku cintai sampai aku mati, walaupun kami dipisahkan maut, tapi aku yakin diakhirat kelak kami akan berjodoh.

{18 Feb. 15}

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tumis Labu siam

SELASA, 03 OKTOBER 2017 1. siapkan alat dan bahan yang akan digunakan. (bahan: labu siam, cabai, minyak goreng, garam, sasa (penyedap rasa),...