HARAPAN
TERAKHIR
Namaku adalah Muhammad Joinger, panggil saja
aku Join, nama ini ayahku berikan karena aku keturunan blasteran antara ibu yang keturunan melayu (muslim) dan ayahku
Jerman, ibuku meninggal saat melahirkanku, karena terlalu banyak megeluarkan
darah. Tapi walaupun begitu ayah tidak pernah menyalahkan ku akan kematian ibu,
walau sebenarnya ia sangat mencintai ibu, buktinya dia tidak menikah lagi
sampai aku SMP. Tapi, apa setelah aku lulus SMP ayah ku menikah lagi, tidak!
Ayah ku tetap setia pada ibu sampai akhir hayatnya. Lebih tepatnya ayahku
meninggal saat aku SMP. Dari sinilah awal kisahku muncul.
Tahukah kalian apa penyebab
kematian ayahku? Tentu kalian tidak tahu, tapi aku akan menceritakannya. Ayahku
adalah seorang pegawai di salah satu perusahaan minyak Swasta terbesar di kota
kami, tapi tragisnya ayahku meninggal karena serangan jantung. Lebih tepatnya
karena menaggung beban perasaan yang dia simpan.
Pagi itu, aku dan ayah sedang
bermain sepak bola di taman belakang apartemen kami, ya! Seperti biasa aku
memang selalu kalah dari ayahku yang hebat ini. Selepas bermain dengan puasnya dan
jalan-jalan seharian karena hari ini ayah libur, saat sampai dirumah seperti
biasa kami akan berbagi tugas dalam mengurus keperluan rumah, ayah memasak dan
aku akan mencuci dan menyapu rumah. Kebetulan kebutuhan dapur kami sudah habis
dan ayah terpaksa harus pergi kepasar sebentar untuk membelinya. Tapi sebelum
pergi aku minta ayah untuk membelikanku sepatu bola. Aku katakan pada ayah
bahwa aku selalu kalah dari ayah saat bermain sepak bola karena tidak mempunyai
sepatu bola sedangkan ayah punya. Tapi, dengan tidak ragunya dia menjawab “ya”
untuk membelikanku sepatu bola, bahkan katanya dia akan membelikanku sepatu itu
langsung sepulang dari pasar. Tak aku pungkiri, aku sangat bahagia, kemudian
pergi lah ayah ke pasar. Saat kembali dari pasar, aku sudah menanti-nanti ayah,
sesampainya ia dirumah aku langsung bertanya “mana sepatu bolaku yah!” dia
menjawab sambil menegadah “masyaallah ayah lupa”. Kamu tunggu dulu ayah akan
membelikan sepatu bolanya dulu”. Tapi saat hendak pergi ayah ditelepon oleh
atasannya, untuk pergi kekantor, tentu saja ayah harus mengutamakan
pekerjaannya dulu, sku juga mengerti dan tidak marah dengan ayah karena dia
tidak bisa membelikanku sepatu bola saat itu, kerjaannya kan lebih penting dari
mana lagi kami bisa mendapatkan uang kalau ayah tidak berkerja. Ayahpun
langsung pergi, aku menunggu ayah sampai larut malam belum juga pulang, aku
makan seadanya dirumah, karena tidak ada yang memasak, biasanya ayah yamg
selalu memasak, karena sangkin ngantuknya aku pun tertidur diruang tamu
menunggu ayah. Sampai pagipun ddan aku pergi sekolah dan sampai pulang sekolah
ayah belum juga pulang. Aku sangat khawatir dengan ayah, saat sedang membaca
koran dan menunggu ayah, ada beberapa orang laki-laki tegap datang kerumah,
ternyata mereka polisi, mereka berkata hanya menyampaikan pesan padaku bahwa
ayahku ada di kantor polisi dan sedang menunggu ku. Aku sangat terkejut
mendengar hal itu, dan langsung berlari kekantor polisi dengan tergesa-gesa,
pintu rumah tidak sempat kau tutup, bahkan sandalpu tidak kau pakai. Demi
menemui ayah ku yang berada dikantor polisi.
Sampai dikantor polisi aku
langsung bertemu dengan ayah, aku hanya diam tertunduk dengan keadaan ayah
tanpa ada sepatah katapun yang keluar dari mulutku. Aku hanya meneteskan air
mata. Ayah ku langsung menghapus air mataku dengan tangannya, tapi aku terus
menagis, ayah bilang padaku bahwa dia tidak bersalah. Aku percaya pada ayahku
bahwa ayahku tidak bersalah dan polisi itu salah telah menuduh ayahku membunuh
seseorang. Bagaimana aku bisa percaya sedangkan ayah sangat baik, dan kata
polisipun orang itu mati ketika sore menjelang malam, bagaimana aku mau
percaya, sedangkan ayah masih dirumah waktu itu dan baru keluar rumah malamnya.
“dasar polisi pemfitnah” itu yang ada dalam pikiranku waktu itu. Ayah terus
bilang bahwa dia tidak bersalah padaku, aku percaya! Ayah juga biang padaku
harus pintar-pintar mengurus diri sendiri selama dia dipenjara. Tapi, aku juga
tidak mau kalah perduli dengan ayah, aku bertekad akan mengeluarkan ayah dari
penjara, aku berjanji, aku minta ayah agar mau menuggu ku, ayahn hanya
mengangguk, aku terus memeluk ayahku dalam keadaan hening itu, hingga jam besuk
habis dan ayahku terpaksa harus masuk lagi kejeruji bersi yang dingin itu. Aku
sangat kasihan dengan ayahku, apa dosa yang telah ia perbuat hingga dia
bernasib seperti ini.
Aku binggung waktu itu harus
menolong ayah degan cara apa, jadi aku pergi kerumah atasan ayahku yang
menyuruhnya kekantor, sehingga ayahku ditangkap. Aku memohon kepada atsan ayah
untuk mengeluarkan ayahku, tapi dia sama sekali tidak perduli, dia malah
megusirku dengan para bodyguardnya. Aku tetap berusaha memohon dan menunggu
didepan rumahnya, kemudian beberapa saat ada yang membuka pintu gerbang
rumahnya, aku pikir itu atasan ayah tapi ternyata itu para pengawalnya yang
siap mengusirku, tapi aku bersikeras tetap mau menunggu dan meronta, tapi para
abang-abang yang bertubuh kekar itu membawaku ke jalan gang, dan menghajarku
habis-habisan sampai wajahku luka parah dan tidak kelihatan lagi, aku hany
ingat mereka terus memukulku, dan setelah itu aku tidak ingat lagi karena
penglihatanku langsung kelam, dan setelah aku sadar aku sudah berada didalam
rumah, para tetangga yang berda disekitar ruamah yang menemukanku, membawa aku
pulang dan merawat lukaku, aku benar-benar berterimakasih kepada mereka, karena
ternyata masih ada orang yang mau perduli denganku. Seminggu setelah itu aku
masu sekolah lagi, teman-teman sekolahanku meatapku dengan hina saat aku masuk
sekolah lagi, tapi aku tidak perduli, karena aku harus belajar yang rajin
supaya aku bisa mengeluarkan ayahku dari penjara itu pikirku saat itu. Toh,
mereka juga tidak tahu bagaimana kenyataan dan penderitaan yang sebenarnya aku
alami, mereka hanya bisa merengek pada orangtua mereka, tidak seperti aku yang
dari kecil hanya dijaga ayah. Karena sudah satu minggu aku tidak menengok ayah
dipenjara, rencananya aku akan menjenguk ayah saat aku pulang sekolah sesudah
les tambahan gratis yang diadakan sekolahanku, tapi saat kembali kerumah aku
mendapati mang Ejo, tetangga kami sedang berdiri murung didepan rumah, aku
bertanya ada apa, tapi dia bilang “yang tabah ya Jo” aku binggung kenapa dia
berkata seperti itu, aku bertanya lagi padanya ada apa, kemudian dia baru
menjawab bahwa ayahku sudah meninggal karena serangan jantung mendadak. Polisi
mengantarkan jenazah ayahku kerumah, tapi aku hanya bisa menagis, aku berbisik
sambil menagis disamping jenazah ayahky “kenapa ayah pergi meninggalkan Join,
sekarang siapa yang akan menemani Join main bola yah, bagaiman Join melanjutkan
hidup yah. Join kan sudah janji akan mengeluarkan ayah dari penjara dengan
hormat, tapi kenapa ayah tidak menunggu Join yah” mataku melotot sambil
megeluarkan air mata yang tak henti-henti, mataku merah menyala dan aku
terus-terusan pingsan, tetangga-tetangga juga khawatir denga keadaanku. Karena
setelah ayah dimakamkan aku terus mengis, dan megurung diri, tetanggaku yang
tidak tega melihat keadaanku, terus mencoba untuk menghiburku dan membujukku
agar mau makan, karena sudah empat hari aku tidak makan, aku juga tidak tahu
bagaiman aku bisa bertahan waktu itu. Tapi aku tetap tak memperdulikan tubuhku
dan juga para tetangga yang berkunjung, bagiku mereka hanya nyamuk yang sedang
berdengung, aku tidak tahu apa yang mereka katakan, hingga pada malam kelima
aku tidak makan, aku merasa semuanya mulai gelap dan berputar-putar dan setelah
itu aku tidak sadar lagi apa yang terjadi denga diriku. Setelah aku sadar, aku
mendapati diriku sedang diinfus dan banyak orang sedang bergerumun
disekelilingku, dan ada dokter yang sedang memeriksaku, dia bertanya apa
aku merasa lebih baik, aku hanya
mengangguk dan tidak menjawab, karena aku terlalu lemas untuk mejawab.
Setelah semua orang pulang hanya
ada aku dan pak Ejo, yang menemani aku, dia memberikan aku bubur nasi untuk aku
makan, kali ini aku mau makan, karena aku baru merasa lapar, sambil makan pak
Ejo menasehati aku. Katanya walaupun kau hidup sebatang kara aku harus tetap
kuat dan mempunyai mimpi, agar perjuangan ayahku selama ini untuk membesarkanku
tidak sia-sia. Setelah makan bubur dan mendengar cerita pak Ejo, dia memang
benar, ayah sudah susah payah membesarkanku, kenapa aku tidak memperjuangkan apa
yang sudah diperjuangkan ayahku, aku malah bersikap kekanak-kanakan, ya!
Walaupun sebenarnya aku memang cengeng yang menurutku sendiri mirip anak
perempuan, tapi aku tidak perduli, karena hanya ayah yang aku miliki selama
ini, akupun juga tidak tahu dimana sanak saudaraku. Karena terlintas
dipikiranku tentang sanak saudara, aku bertanya pada pak Ejo dimana saudara dan
kerabat ayah atau ibu ku, karena kau pikir pak Ejo pasti tahu diman mereka, kan
pak Ejo sudah kenal dengan orangtuaku sebelum aku lahir. Beliaupun menceritakan
semuanya dan ternyata ayah dan ibu ku itu kawin lari karena orang tua tidak
setuku, sebab mereka berbeda agama, dan pak Ejo juga tidak tahu siapa sanak
saudara ku sebab sejak mereka pindah kesini, tidak ada yang menemui ayah dan
ibuku. Oh iya! Kau lupa cerita tentang status pak Ejo, dia ini adalah bujang
lapuk, yang bisa dibilang sangat lapuk bahkan sagkin lapuknya sampai tumbuhnya berjamur
kekulat-kulatan. He......... Itu hanya istilah, bagaiman tidak dia kan sudah
berumurrrrrrrrrrrrrr..........................59 tahun,tanpa punya anak,
bagaiman mau punya anak, menikahpun tidak pernah, memang tragis, sama seperti
nasibku. Hari demi haripun berlalu, untung ada pak Ejo yang merawatku
menggantikan ayah, dia tidak keberatan karena dia juga tidak punya anak, aku
juga senang bisa dirawat pak Ejo, tiap hari dia terus menasehati dan
mengajarkanku yang baik-baik bahkan mendekatkan diri ke Ynag Maha Kuasa, dia
juga menyengkolahkanku, sekarang rasanya aku bisa bangkit lagi, karena ada pak
Ejo yang harus aku buat bangga, eh! Aku lupa bilang lagi, sebenarnya aku adalah
siswa yang lumayan dalam bidang akademik, aku sering mendapat juara dalam
olimpiade SAINS, dan sering mendapat peringkat yang berkecimpung dalan tiga
besar teru tiap semester, tapi karena masalah yang aku hadapi kahir- akhir ini,
peringkatku bagai terpental, tertendang jauh kelangit, ya, menurut ku begitu,
kalian tahu peringkatku jadi keberapa, aku jadi urutang yang ke 16, jauh
memang, tapi sekarang berbeda karena ini kesempatan terakhir untuk membanggakan
orang yang aku syangi saat ini, yaitu pak Ejo yang merawat ku aku harus
peringkat atas lagi, dan ternyata aku berhasil aku mendapat nilai terbaik
disekolahku waktu ujian, pak Ejo sangat senang, karena semangat belajarku yang
kuat, pak Ejo bertekad untuk menyengkolahkanku di sekolah elite yang bertarap
intenasional. Awalnya aku merasa tidak enak karena pasti sangat sulit untuk
mendapatka biayanya, tapi sebuah keajaiban karena prestasiku selama di SMP,
ternyata aku diberi beasiswa, aku sangat senang sekali, karena pak Ejo tidak
akan susah-susah memikirkan biyanya. Sebenarnya sesekali aku sering memikirkan
kekesalan pada para orangtua para murid yang kaya-kaya itu, karena aku masih
mersa marah akan apa yang terjadi pada ayahku yang dilakukan oleh para bos-bos
kaya seperti aorang tua anak-anak kaya itu, tapi bagaimanpun aku harus
melupakan hal itu dan menjadi pengacara ternama untuk membersihkan nama ayahku,
karena kebenaran pasti akan terungkap ya! itu lah mimpku saat ini. Aku juga
tidak memikirkan banyak hal tentang apapun sekarang. Yang aku pikirkan sekarang
bagaiman membahagiakan pak Ejo yang sudah sangat sayang dan baik padaku.
Beberapa bulan sekolah disana
aku merasa kerasan, karena semuanya anak-anak orang kaya, tapi apa boleh buat. Walaupun
tidak seorangpun ytang mau berteman dengan aku, tapi aku harus berjuang karena
aku tidak mau mengubur impian ku dan juga harapan pak Ejo. Seperti bisa pulang
sekolah aku harus bekerja paruh waktu membantu pak Ejo, kasihan dia sudah tua
dan mulai penyakitan, apalagi sekrang hanya dia yang aku miliki.
Tapi.......kejadian lama terulang lagi, saat aku pulang kerumah aku mendapati
pak Ejo sudah tek bernyawa lagi. Sebelum aku masuk kerumah, ada beberapa preman
yang keluar dari rumah kami. Aku tahu itu pasti ulah rentenir yang menagih
hutang. Aku tidak habis pikir kenappa mereka tega melakukan itu pada pak Ejo
yang begitu baik, padahal pak Ejo tidak pernah telat bayar hutang tiap
bulannya, lagiuan mereka kan bidsa menyita barang-barang kami, tidak perlu membunuh
pak Ejo. Aku meras benar-benar hancur, aku tidak bisa berkata apa-ap lagi, aku
mengis sejadi-jadinya, sama seperti saat aku kehilangan orangtuaku. Ada
tetangga yang memberitahuku bahwa pak Ejo bukan dibunuh karena hutang, tapii
karena tidak mau menjual tanahnya, tanah itu adalah tanah peninggalan kedua
orangtua pak Ejo. Tambah lagi aku semakin marah dengan para orang kaya itu,
mereka bisa seenaknya berbuat begitu, apa uang bisa membeli semuanya, itulah
yang aku pikirkan saat itu. Dengan tekad yang bulat aku berhasil menyelesaikan
SMA ku degan nilai terbaik dan berhasil mendapatkan beasiswa keluar Negeri
untuk menjadi pengacara. Aku senang karena tinggal beberapa tahun lagi
cita-citaku tercapaim untuk menjadi seorang pengacara.
Akhirnya setelah perjuangan yang
begitu berat, dengan selalu diremehkan orang dan setiap hari bekerja
diperintahi orang lain, aku bisa mencapai cita-citaku, bahkan sekarang aku
menjadi pengacara yang sangat terkenal dinegaraa tempat kuliahku aku dikenal
sebagai MJ si dewa, baiman tidak setiap kasus yang aku tangani selau menang dan
aku tidak pernah sekalipun gagal atu kalaah. Aku juga menjadi orang yang kaya,
dengan uang hasil pengacaraku aku juga membangun beberapa usaha yang maju
dengan sangat pesat, munkin ini adalah hasil dari perjuangaan ku selama ini.
Tapi tentu saja aku tidak lupa tujuan awalku untuk membalaskan dendam
orangtuaku. Ya! Begitulah, niat yang awalnya hanya untuk mempebaiki nama ayahku
saja, kini berubah menjadi dendam yang selau menyiksa hatiku. Bagaimana tidak,
aku tidak akan pernah lupa akn perbuatan orang-orang krji itu kepada orangtuaku
dan terutama pada pak Ejo, satu-satunya orang yang mau merawatku, setelah kedua
orangtuaku meninggal. Semuanya sudah aku urus, parport, barang-barang, tempat
yang akan aku diami setelah aku kembali ketanah airku, bahkan tempat kerja
sudah aku siapkan, maklum karena karier kerjaku yang bagus, jadi tidak susah
untukku mencari pekerjaan diperusahaan mana yang aku mau. Dan tentunya aku
sudah menyiapkan semua keperluanku untuk pembalaskan dendamku, bahkan tempat
aku kerja disana nanti adalah tempat dimanaa anak dari orang yang membunuh
ayahku itu bekerja juga. Aku bahkan menjadi atasannya, ya aku rasa, semua yang
aku butuhkkan sudah siap, tinggal menuggu keberangkatanku yang beberapa hari
lagi. Rasa didalam hatiku begitu bergejolak dan ingin terburu-buru membalaskan
dendam orangtuaku, dari sinilah rasanya bercak hitam dihatiku itu mulai hidup,
rasanya ada yang mendorong agar aku segera melaksanakan balas dendamku.
Seperti yang aku inginkan,
setelah sampai di Indonesia semuanya berjalaan lancar, aku menjadi atasan dari
anak orang yang paling aku benci, yaitu pemmbunuh ayahku. Dia yang membunuh
ayahku. Bagaiman tidak dia yang menyebabkan ayahku kena serangan jantung dan
akhirnya meninggal. Aku mulai menjalankan rencanaku secara perlahan-lahan,
namun pasti. Mulai dari aku membuat sulit anak orang yang membunuh ayahku. Oh
iya! Namanya adalah Nandito Notonegoro, baguskan namanya, tapi tidak sebagus
orangtua yang memeberikan nama itu. Aku mulai menikmati balas dendamku, dan aku
juga mulai mengorek kembali kasus lama ayahku, tapi waktuku tidak banyak,
karena masa penjaranya tinggal beberapa bulan lagi, dan akn ditutup untuk
selama-lamanya. Dengan berbagai upaya aku mengoreknya lebih dalam. Tapi entah
kenapa tidak seperti kasus-kasus yang selam ini aku selidiki dan aku menangkan.
Entah kenapa aku merasa kasusu ini begitu sulit dan sangat susah. Ketakutan
terbesarku adalah aku gagal, karena selain ini sebagi upay balas dendam
orangtuaku, ini juga penentu karierku. Kalau sampai aku gagal, reputasiku akan
hancur. Entah kenapa aku berubah menjadim sombong dan suka menindas dan
meremehkan bawahanku, aku mjulai menikatinya. Aku juga sangat mudah emosi.
Jangan salah walaupun aku hidup
seperti ini aku juga memiliki kisah cinta. 7 bulan aku berada di Indonesia, aku
dikunjungi Nandin, dia adalah tunaganku yang selama ini selau mendukungku,
apapun yang aku lakukan dia selalu membantu dan mensuportku, mungkin itu
sebabya aku menyukainya, apalagi dia juga orang Indonesia yang pindah kenegeri
orang, dengan bantuan orangtuanyalah aku bisa sukses seperti sekarang. Tapi dia
tidak pernah mengungkit hal itu, dia bilang itu berkat kemampuan diriku
sendiri. Orangtuanya juga sangat percaya padaku. Makanya satu tahun yang lalu
kami bertunangan. Aku terkejut karena dia datang tidak biilang terlebihdulu,
saat aku pulang dari kantoe sekitar jam 9 malam setelah rapat, aku sudah
mendapati dia dirumahku sudah menungguku untuk makan malam. Senang bercampur
heran itu yang aku rasakan. “kamu sudah pulang, ato makan dulu” itu kalimat
yang langsung ia tuturkan padaku, dia juga langsung salim denganku. Malam itu
sambil makan kami mengiobrol. “kamu kenapa kemari tidak bilang dulu, aku kan
bisa jemput”
“aku tidak
amu merepotkan, kamukan juga pasti sedang sibuk mengurus kasus-kasus yang kamu
tangani”
“terus
kenapa kamu kemari dan tidak menungguku di Amerika, sebentar lagi juga aku
pulang”
“aku kangen,
mana kamu juga jarang menelpon, jadi aku pikir lebih baik aku bersama kamu
disini”
Satu minggu
sudah lewat dia tinggal bersamaku disini. Dia mengurus segala keperluanku
layaknya seorang istri. Tapi jagan salah sangka aku tidak berbuat apaa-apaa
denngannya, kami hanya tinggal satu atap, tapi tidak satu kamar. Sembari itu
aku mulai tergesa-gesa dengan kasus ayahku, karena sulit umtuk membagkitkan
kembaliu kasus itu, mana waktunya hampir habis, mana Nandin terus mendesakku
untuk menikahinya, minimalk pulanglah ke Amerika, karena dia khawatir kalau
terus di Indonesia aku akan terus sibuk dan tidak menhindahkan janji kami yang
dulu. Aku berfikir Nandin sangat egois, dia tidak memikirkan keinginanku, dia
kan tahu hal ini sudah aku nantikan bertahun-tahun, juga dulu dia tidak
membentah dan selalu mendukung apa yang aku lakukan, kenapa dia jadi seperti
ini.
Di suatu siang dia menelfonku
untuk pulang makaan bersama, dia memintaku untuk kembali bersama dengannya ke
Amerika dari pada disini tidak mendapatkan hasil apa-apa. Aku sangat kesal
mendengar hal itu” kalau mau pulang saja sana, aku tidak pernah memntamu untuk
datang kesini” aku langsung kekantor lagi, apa sih! yang difikirkan Nandin,
menelfonku hanya untuk masalah ini. Setelah pulang kerja dan sampai dirumah,
ternyata dia mengerti dengan kemarahanku jadi dia coba menghiburku dan tidak
menanyakan masalah itu lagi. Setelah makan dan nonton-nonton santai ternyata
dia mengajukan pertanyaan itu lagi, kapan aku menikahi dia?
Aku mualai
emosi lagi dan langsung membentak dia, aku bahkan menamparnya dan memukulinya,
samapi dia bersimpah darah, yang aku rasakan saat iru adalah kemarahanku pada
orang-orang yang aku dendami. Saat aku tersadar dari amarahku ternyata yang aku
pukuli adalah Nandin bukan merka, aku langsung memeluk Nandin erat dan
mengobati lukanya, tapi dia sama sekali tidak benci bahakan marah deganku, dia
malah menghiburku agar tetap tenang menhadapi emosiku. Semejak itu dia tidak
pernah mengungkit lagi masalah kembali ke Amerika atau menikah. Dia hanya
membantuku menjalankan kasus-kasusku. Akhirnya saat yang aku tunggu-tunggu
datang juga yaitu hari sidang kasus ayahku, aku sudah memepersiapkan semuanya
dengan matang, satu minggu sidang ditunda, sidang berlangsung selama 2 minggu.
Saat sidang kedua sudah berlangsung, aku kalah karena kurangnya bukti dan
kasusu ini sudah terlalu lama dan waktunyapun sudah habis tiga hari yang lalu.
Aku benci, kesal dan marah pada semua orang, aku hamburkan semua peralatanku
dikantor dan dirumah, susah payah aku mencapai semua ini dan kau kalaah saat
membela yang benar, membela ayahku, kenap ini terjadi, ini sangat tidak adil.
Nandin mencoba menhiburku, tapi aku malah marah padanya dan memeukulnya lagi”
ini semua gara-gara kamu, aku sampai gagal karena kamu, kamu terus menggangguku
dengan pernikahan, aku muak!, kamu lihat sekarang tidak hanya ayahku yang tidak
bisa aku bela tapi juga karierku yang hancur, semua ini gara-gara kamu” dia
meminta maaf padaku dibawah kaiku, tapi aku malah menedangnya sampai ia
terpental kedinding
“pergi kau
aku tidak mau melihatmu lagi”
“bagaimana
denga pernikahan kita” sambil menagis dan kesakitan dia mengatakan itu padaku
“aku tidak
perduli, sekaraang aku tidak mau lagi dengan wanita pembawa sial denganmu”
“kenapa kamu
tega, kamu kan sudah berjanji untuk menikahiku”
“menikah!
Aku tidak mau lagi menikah dengan wanita pembawa sial sepertimu, kalau mau
menikah, menikah saja denga orang lain, kamukan juga tidak hamil utnuk apa aku
menikahimu”
“apa kamu
bilang”
“pergi
sekarang!”
Sambil
menagis dia pergi dan mengatakan kata terakhir utnukku “aku akan pergi kalau
memang membuatmu senang, supaya aku tidak menjadi bebanmu lagi” dia pun pergi,
tapi aku tidak sedikitpun merasa bersalah, aku bahkan tidak melihat kearah dia
sama sekali. Tidak lama setelah itu, bruk............., ada sebuah kecelakaan
didepan kantorku, dan anak buahku langung mendatangi aku dia bilang denga napas
terpengoh-pengih karena berlari baha Nandin di tabrak mobil, dia yang
kecelakaan didepan kantorku itu. Aku baru tersadar bahwa aku sudah mengusir
Nandin. Aku langung berlari dan mengampirinya, darah menalir disepanjang jalan,
dan akhirnya diapun meninggal, sebelum meninggal dia sempat bilang padaku bahwa
dia mencintaiku selamamya dan dia
mendoakanku agar bahagia dengan pilihanku dan mengharapkan agar aku jangan
pernah dendam lagi dengan orang lain, denga senyum dia pergi meninggalkanku
untuk selamanya. Aku berteriak sejadi-jadinya, hingga rasanyapun suaraku sudah
habis. Apa yang aku lakukan aku sudah membuat orang yang aku cintai meniggal
dan terskiti. Karena dendamku aku kehialangan orang yang aku sayangi lagi,
buaknnya mendapatka kebahagiaan, aku malah mendapatkan penderitaan lagi
gara-gara ulahku sendiri. Tentunya kejadian ini segara diketahui keluarga
Nandin, saat mereka kembali ke Indonesia dan mendapati satu-satunya anak
perempuan mereka meninggal, mereka tidak henti-hentinya menyalahkan aku,
ditambah lagi bukti pukul yang aku lakukan pada Nandin, kekecewaan dan
kemarahan mereka tidak terbendung lagi, mereke memukul ku berkali-kali hingga
aku babak belur dan tidak sadarkan diri, tapi aku tidak perduli, mau mereka
bunuhpun aku, aku tidak perduli lagi dengan hidupku, aku sudah menhancurkan
hidupku sendiri. Keluarga Nandin melaporkanku ke pada polisi atas tindakan
penganiayaan da kau dihukum selama 5 tahun. Aku jadi bankrut, karena tidak ada
yang mengurusi perusahaanku, keluarga Nandinpun tidak mau berhunbungan dengaku
lagi, aku maklumi itu, sebenarnya aku juga sudah berkali-kali mencoba bunuh
diri, tapi selalu gagal.
Liam tahun sudah aku dipenjara
dan saatnya aku keluar, tapi aku tidak punya arah dan tujuan lagi, bahkan aku tidak
tahu untuk apa aku hidup, aku mengunjungi makam Nandin dan selam berhari-hari
aku disana, beberapa orang memberiku makanan, tapi saat petugas makam pusat
datang mereka mengusirku. Aku bersikeras seperti orang gila tidak mau
maninggalkan makam Nandin. Tapi apa boleh buat nasi sudah jadi bubur, bukan
hanya menjadi bubur, tapi sudah jadi abu yang berterbangan, seperti itulah
kejadian hidupku, Nandin pun tidak mungkin bangkit lagi dari kuburnya. Aku berjalan tak tahu
arah, yang ada dalam pikiranku hanya penyesalanku kepada Nandin, aku
sempoyongan ditengah jalan dan kemudian tidak sadarkan diri. Setelah aku bagun,
ternyata aku pingsan didepan Masjid, aku terbangun saat mendenagarkan azan
berkumandang. Aku duduk dan merenung seperti orang yang kehilangan pikiran
lagi. Saat aku sedang duduk datang seorang lelaki tua mengampiriku “sudah
shalat jang” itu yang dia katakan padaku “belum pak” balasku
“ayo kita
shalat bersama-sama”
Aku baru
sadar bahwa selama ini aku sudah lama tidak menghadap kebarat dan melupakan-Nya,
bahkan aku tidak tahu lagi cara shalat “saya
tidak bisa lagi shalat pak”
“tidak apa
biar nanti saya ajarkan, biar nanti bujang jadi makmunya, saya jadi imamnya,
nanti ikuti saya saja”
Akupun
melaksanakan shalat, aku berdoa pada sang Kuasa agar diberi hidayah untuk
kesempatan hidup yang masih Ia berikan ini. Setelah sahat hatiku mersa tenang,
damai, dan tebtram, beban yang selau ada dipundakku rasanya mulai ringan. Aku
sadar karena jauh dari Allah lah yang membuat hidupku jadi seperti ini. Aku
menceritakan semua kejadian yang terjadi dalam hidupku kepada bapak yang
mengajak aku shalat tadi, mulai dari aku kecil sampai aku luntak-lantung
seperti sekarang. Bapak itu ternyata adalah seorang ustad sekaligus sesepuh
kampung itu. Dia menasehatiku dengan berbagai ayat dari Al-Quran kepada ku
tentang kejadian yang meninpaku kini sedikit demi sedikit racun yang ada
dihatiku mulai sirna. Dia mengajak aku tinggal bersama dengaannya, tapi aku
menolak, aku mau mengabdikan diriku kepada Allah SWT, karena selam ini aku
begitu jauh dari-Nya, aku tinggal di masjid dan menjaga masji, aku mau memulai
hidupku dari awal lagi, tapi tidak untuk mencari kekayaan namun untuk mencari
ketentraman. Dan mengenai kisah cintaku, walaupun aku sudah bertaubat dan mulai
mendekatkan diri pada Yang Kuasa dan bertekad untuk memulai kembali, aku tetap
tidak bisa melupakan Nandin, bagiku dialah satu-satunya orang yang aku cintai
sampai aku mati, walaupun kami dipisahkan maut, tapi aku yakin diakhirat kelak
kami akan berjodoh.
{18
Feb. 15}
Tidak ada komentar:
Posting Komentar